Makna “Wanita baik utk laki laki baik pd Al-Quran Surah AnNur ayat 26”

Allah berfirman:
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”(QS.An¬-Nuur:26).
Berangkat dari pemahaman kita atas ayat Allah tsb, tentu saja kita bertanya-tanya apakah yang dimaksud baik di sini? Atau keji? Apakah kita dapat menentukan sesuatu itu baik atau tidak baik? Kalau kita cermati, ayat di atas merupakan satu paket ayat yang bersambung ,tidak hanya putus pada kalimat “untuk wanita yang baik” tetapi masih berlanjut dengan bahasan tuduhan , juga ampunan. Artinya ayat ini sebenarnya diturunkan dalam konteks tertentu. Coba kita lihat konteks ayat ini turun (asbabun nuzul);
“Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah RA dan Shafwan bin al-Mu’attal RA dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasulullah Shallallahu’Ala¬ihi Wasallam dan para sahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah di kalangan umat muslim kala itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik jika telah terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan.
Masalah menjadi sangat pelik karena sempat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat ini yang juga satu paket annur 11-26.”
Penjelasan QS.An Nur :26 menurut para ulama:
Jika dilihat dari konteks ayat ini, ada dua penafsiran para ulama terhadap ayat ini yaitu tentang arti kata “wanita yang baik” dan juga “ucapan yang baik” Sehingga dapat juga diartikan seperti ini;
“Perkara-perkar¬a (ucapan) yang kotor adalah dari orang-orang yang kotor, dan orang-orang yang kotor adalah untuk perkara-perkara¬ yang kotor. Sedang perkara (ucapan) yang baik adalah dari orang baik-baik, dan orang baik-baik menimbulkan perkara yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Kata ‘khabiitsat’ biasa dipakai untuk makna ucapan yang kotor (keji), juga kata ‘thayyibaat’ dalam Quran diartikan sebagai kalimat yang baik.
Hakam Ibnu Utaibah yang menceritakan, bahwa ketika orang-orang mempergunjingka¬n perihal Aisyah RA Rasulullah Shallallahu’Ala¬ihi Wasallam menyuruh seseorang mendatangi Siti Aisyah RA Utusan itu mengatakan, “Hai Aisyah! Apakah yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?” Aisyah RA menjawab, “Aku tidak akan mengemukakan suatu alasan pun hingga turun alasanku dari langit”. Maka Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur mengenai diri Siti Aisyah RA. Selanjutnya Hakam Ibnu Utaiban membacakannya hingga sampai dengan firman-Nya, “Ucapan-ucapan yang keji adalah dari orang-orang yang keji…” (Q.S. An Nur, 26). Hadits ini berpredikat Mursal dan sanadnya shahih.
Ayat 26 inilah penutup dari ayat wahyu yang membersihkan istri Nabi, Aisyah dari tuduhan keji itu. Di dalam ayat ini diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan keji adalah perbuatan yang amat keji hanya akan timbul daripada orang yang keji pula. Memang orang-orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun ucapan-ucapan yang baik adalah keluar dari orang-orang yang baik pula, dan memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor, dan ini berlaku secara umum
Di akhir ayat 26 Allah Subhannahu wa Ta’ala menutup perkara tuduhan ini dengan ucapan bersih dari yang dituduhkan yaitu bahwa sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah sama sekali. Maka makna ayat di atas juga sangat tepat bahwa orang yang baik tidak akan menyebarkan fitnah, fitnah hanya keluar dari orang–orang yang berhati dengki, kotor, tidak bersih. Orang yang baik, dia akan tetap bersih, karena kebersihan hatinya.
Yang Baik Hanya Untuk yang baik?
Pembahasan kedua yaitu tentang maksud ayat di atas yaitu “wanita yang baik” dan “wanita yang keji”. Dalam hal ini terjemahan Depag menggunakan arti wanita yang baik dan pemahaman ini berangkat dari para ulama yang menyatakan bahwa Aisyah merupakan wanita yang baik-baik, karena konteks ayat tersebut turun satu paket, yaitu ayat 11-26 dengan ayat sebelumnya tentang seseorang menuduh wanita yang baik-baik berzina. Maka jika diartikan begitu sesuai dengan pertanyaan di atas
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Ayat ini bersifat umum, bahwa wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, begitu juga sebaliknya. Namun yang perlu dipahami adalah ayat ini sebuah kondisi atau memang anjuran, sebab para ulama banyak mengemukakan pendapat tentang hal ini. Syaikh Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi, ulama Mesir pernah berkata: ada dua macam kalam (kalimat sempurna) dalam bahasa Arab. Pertama; Kalam yang mengabarkan kondisi atau suasana yang ada.
Kedua Kalam yang bermaksud ingin menciptakan kondisi dan suasana. Kalam seperti ini bisa ditemukan dalam Quran. Seperti firman Allah QS. Ali-Imran: 97: Barang siapa yang memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Ayat itu kalau dipahami, bahwa Allah sedang mengabarkan kondisi dan suasana kota Mekah sesuai kenyataan yang ada, maka tentu tidak akan terjadi hal-hal yang bertolak belakang dengan kondisi itu. Akan tetapi, kalau ayat itu dipahami, sebagai bentuk pengkondisian suasana, maka Allah sesungguhnya tengah menyuruh manusia, untuk menciptakan kondisi aman di kota Mekah. Kalaupun kenyataan banyak terjadi, bahwa kota Mekah kadang tidak aman, maka hal itu artinya, manusia tidak mengejewantahka¬n perintah Allah.
Pemahaman yang sama juga bisa ditelaah pada ayat ini; Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An-Nur: 26). Pada kenyataan yang terjadi, ternyata, ada laki-laki yang baik mendapat istri yang keji, begitu pula sebaliknya. Maka memahami ayat tersebut sebagai sebuah perintah, untuk menciptakan kondisi yang baik-baik untuk yang baik-baik, adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, maka kondisi terbalik malah yang akan terjadi.
Kalau kita bandingkan dengan Annur ayat 3 yang mana kalimat digunakan untuk umum
“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik” (QS. An Nur ayat 3)
Di ayat ini lebih tegas mengandung “unsur perintah” untuk mencari pasangan yang sepadan. Sehingga ayat 26 bisa dimengerti sebagai sebuah motivasi atau anjuran untuk mengondisikan dan bukan sebagai ketetapan bahwa yang baik “otomatis” akan mendapatkan pasangan yang baik. Hal ini tentu memerlukan usaha untuk memperbaiki diri lebih baik.
Ayat tersebut merupakan PERINGATAN,HIMB¬AUAN,NASEHAT agar umat Islam memilih manusia yang baik untuk dijadikan pasangan hidup. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tentang anjuran memilih pasangan yaitu lazimnya dengan 4 pertimbangan, dan terserah yang mana saja, namun yang agamanya baik tentu sangat dianjurkan.
Wallahua’lam.
Semoga memahami makna yang ada dgn hikmah
Benarkah Perempuan yang Baik untuk Laki-laki yang Baik?
Salam Sobat SQ Blog ! Moga sehat wa afiyat semuanya, AMIN ! Shubuh ini admin akan berbagi pemahaman terkait satu surah dalam al-Quran. Umumnya ayat tersebut dimaknai bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula, begitu pun sebaliknya. Ayat yang memuat informasi tersebut ialah surah al-Nur ayat 26. Pertanyaanya, sudah benarkah demikian pemahaman atau penafsiran ayat tersebut. Inilah yang admin akan bagikan kali ini. Simak uraiannya di bawah ini.

Q.S. al-Nur Ayat 26

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿سورة النور : ٢٦﴾

Artinya: Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).[1] [Q.S. al-Nur : 26]

Asbab al-Nuzul Surah al-Nur Ayat 26

Riwayat asbab al-nuzul dari surah al-Nur ayat 26 di atas, sebagai berikut:[2]
• Pada suatu waktu Khasif bertanya kepada Sa’ad bin Jubair: “Mana yang lebih besar dosanya, zina atau menuduh orang berbuat zina ?”. jawab Sa’ad “Lebih besar zina”. Khasif kembali berkata: “Bukankah Allah swt telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik …..”(QS. An-Nur:23) sebagaimana kita maklumi ?”. Yakni yang menegaskan bahwa orang yang menuduh berzina dilaknat Allah di dunia dan akhirat. Maka Sa’ad berkata: “ayat ini diturunkan khusus berkenaan dengan peristiwa Aisyah”. (HR. Thabrani dari Khasif. Di dalam sanadnya terdapat Yahya al-Hamani yang dha’if).
• Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq dituduh berbuat serong. Dan ia sendiri tidak mengetahui, baru kemudian ada yang menyampaikan tentang tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ketika Rasulullah SAW. Berada di tempat Aisyah, maka turunlah wahyu sehingga beliau membetulkan duduknya serta menyapu muka. Setelah itu beliau bersabda : “Wahai Aisyah, bergembiralah kamu “. Aisyah berkata: “Dengan memuji dan bersyukur kepada Allah, dan bukan kepada tuan.” Kemudian Rasulullah SAW. Membaca ayat ke 23-26 sebagai ketegsan hukum bagi orang yang menuduh berbuat zina terhadap wanita yang suci. (HR. Ibnu Jarir dari Aisyah).
Jadi ayat ke 26 diturunkan sehubungan dengan tuduhan yang dibuat-buat oleh kaum munafikin terhadap diri Aisyah, isteri Rasulullah SAW. (HR. Thabrani dengan dua sanad yang keduanya dha’if dari Ibnu Abbas). Karena ketika itu orang-orang membicarakan fitnah yang ditujukan kepada Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq, isteri Rasulullah. Maka Rasulullah SAW. Mengirim utusan kepada Aisyah dengan mengatakan: “Wahai Aisyah, bagaiamana pendapatmu tentang ocahan orang mengenai dirimu?”. Jawab Aisyah : “Aku tidak akan memberikan sanggahan apa pun sehingga Allah menurunkan sanggahan dari langit”. Maka Allah SWT. Kemudian menurunkan 15 ayat dari surat ini. Yakni ayat ke-11 sampai 26. Kemudian Rasulullah SAW. Membacakan ayat-ayat tersebut kapada Aisyah. (HR. Thabrani dari Hakam bin Utaibah. Hadist ini isnadnya shahih, tetapi mursal).[3]

Pemahaman Ayat

Adapun riwayat asbab al-nuzul dari surah al-Nur ayat 26, Setelah kita mengetahui peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat ini. Kita dapat memahami bahwa ayat di atas diturunkan khusus berkenaan dengan peristiwa Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dituduh kaum munafikin dengan tuduhan yang mereka reka-reka dan dusta dan ayat 26 ini adalah penutup dari ayat wahyu yang tujuannya untuk menjaga kesucian Aisyah istri Rasulullah SAW atau membersihkannya dari tuduhan hina dan nista itu.

Di dalam ayat ini diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan nista adalah perbuatan yang amat kotor hanya akan timbul dari orang yang kotor pula. Memang orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun perkara-perkara yang baik adalah hasil dari orang-orang yang baik pula, dan memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor.[4]

Akan tetapi banyak yang memahami ayat ini seakan mengatakan bahwa jika seorang laki-laki atau wanita baik maka dengan sendirinya istri atau suaminya juga baik, diampuni, dan menjadi salah seorang penghuni surga. Sebab Al-Qur’an suci memandang iman, kesalehan, dan amal baik sebagai kriteria. Akan tetapi sebanarnya tidak begitu, karena meskipun Nuh as dan Luth as adalah manusia-manusia suci dan beriman, namun istri-istri mereka adalah orang-orang jahat dan merupakan penghuni neraka.[5] Dan banyak juga kejadian masa kini yang serupa dengan itu karena hakikatnya ada empat model pasangan suami istri:
1. Suami : Iman/Baik Istri: Kafir/ Buruk (pasangan Nabi Luth dalam surat at-Tahrim:10)
2. Suami : Kafir/Buruk Istri: Iman/ Baik (Pasangan Fir’aun dalam surat at-Tahrim: 11)
3. Suami dan Istri sama-sama Kafir/Buruk (Abu Lahab dan Istrinya Arwa binti Harb “Ummu Jamil”)
4. Suami dan Istri sama-sama Iman/Baik (Rasulullah SAW dan Siti Aisyah ra)
Perkataan yang Baik untuk Orang Baik dan Perkataan Jelek untuk Orang yang Jelek

Dalam tafsir Nurul Qur’an kata thayyib berarti menyenangkan dan manis. Dalam al-Qur’an, kata ini digunakan untuk menggambarkan harta benda, anak keturunan, wacana kota, pasangan hidup, makanan dan rezeki, rumah, sudut, pohon, serta sapaan. Sedangkan lawan katanya khabist, yang berarti jahat dan keji. Ia juga digunakan untuk menggambarkan harta benda, manusia, pasangan hidup, pembicaraan, dan pohon.

Abdullah bin Abbas ra. Berkata: “Maksudnya kat-kata yang buruk hanya pantas bagi laki-laki yang yang buruk. Dan laki-laki yang jahat, yang pantas baginya hanyanlah kata-kata yang buruk begitupun sebalikny. Sebagaimana sudah dikemukakan diatas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ‘Aisyah ra. dan ahlul ifqki”. Demikianlah dikemukakan oleh Mujahid, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, al-Hasan al-Bashri, Habib bin Abi Tsabit, adh-Dhahhak dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari. Intinya, perkataan yang buruk lebih pantas ditujukan kepada orang-orang yang jahat dan perkataan yang baik hanya pantas bagi orang-orang yang baik. Tuduhan keji yang ditujukan kaum munafiq kepada ‘Aisyah ra sebenarnya lebih pantas ditujukan kepada mereka. ‘Aisyah lebih pantas bersih dari tuduhan tersebut daripada mereka.[6]

Pada akhir ayat 26 tuhan menutup perkara tuduhan ini dengan ucapan putus, yaitu bahwa sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah samasekali. Adapun si penuduh yang hanya terbawa-bawa diberi ampun oleh tuhan atas dosanya, setelah yang patut menjalani hukuman telah menjalaninya. Dan rezeki serta kehidupan orang-orang yang kena tuduh akan diberi ganda oleh tuhan.[7]

Penjelasan diatas ingin mengemukakan bahwa ayat ini tidak bisa ditafsirkan serta merta tanpa melihat dan mengetahui sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat ini. Adapun dalam penafsirannya ayat ini bisa ditafsirkan dengan berbagai cara:[8]
• Berkenaan dengan ayat-ayat sebelumnya yang membicarakan wanita-wanita suci serta kejadian ifk, serta berkenaan dengan kalimat : Mereka itu bersih dari apa yang mereka katakana, maka ayat ini berarti bahwa kata-kata buruk semisal fitnah hanya layak bagi orang-orang jahat, sedangkan kata-kata suci hanya cocok bagi oran-orang yang suci pula.
• Dan munkin juga yang dimaksud ayat ini pasangan hidup yang cocok yang berarti suami istri haruslah cocok satu sama lain. Ini artinya, setiap orang dengan sendirinya akan mencari pasangan yang sama watak dan sifatnya. Dengan kata lain, orang yang keji mengejar yang keji dan sebaliknya.
Munkin bahwa maksud ayat ini adalah menyatakan sebuah ketentuan agama, yaitu perkawinan orang baik dengan orang jahat adalah haram. Hal ini seperti ayat ke tiga dari surat yang sama, yang mengatakan : “Pelaku zina laki-laki tidak boleh kawin kecuali dengan pezina perempuan”. Imam Muhammad Baqir, dalam sebuah hadistnya, juga menguatkan arti ini.[9] Wallahu A’lam Bishshawab….!!!

Advertisements

Pengertian Qurban Secara Lengkap dengan Penjelasannya

Pengertian Qurban Secara Lengkap – Setiap tanggal 10 Dzul Hijjah, semua umat Islam yang tidak melaksanakan haji merayakan hari raya Idul Adha. Pada hari itu, umat Islam sangat disunnahkan untuk berqurban dimana mereka menyembelih hewan qurban untuk kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh umat Islam di suatu daerah. Lalu apakah sebenarnya Qurban itu? Dibawah ini akan dijelaskan secara lengkap.
Qurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.
Dalil Disyari’atkannya Kurban
Allah SWT telah mensyariatkan kurban dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (Al-Kautsar: 1 — 3).

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagai syiar Allah. Kamu banyak memperoleh kebaikan dari padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya.” (Al-Hajj: 36).
Keutamaan Ibadah Kurban
Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda, “Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban. Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah Kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu.” (HR Tirmidzi).
Hukum Berkurban
Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda, “Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” HR Muslim

Arti sabda Nabi saw, ” ingin berkorban” adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib.

Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap wajib.
Hikmah Kurban
Ibadah kurban disyariatkan Allah untuk mengenang Sejarah Idul Adha sendiri yang dialami oleh Nabi Ibrahim as dan sebagai suatu upaya untuk memberikan kemudahan pada hari Id, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw, “Hari-hari itu tidak lain adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.”
Syarat-syarat Qurban
Binatang yang Diperbolehkan untuk Kurban
Binatang yang boleh untuk kurban adalah onta, sapi (kerbau) dan kambing. Untuk selain yang tiga jenis ini tidak diperbolehkan. Allah SWT berfirman, “supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34).

Dan dianggap memadai berkurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing jawa yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, dan unta yang berumur lima tahun, baik itu jantan atau betina. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah ra berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Binatang kurban yang paling bagus adalah kambing yang jadza’ (powel/berumur satu tahun).” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Dari Uqbah bin Amir ra, aku berkata, wahai Rasulullah saw, aku mempunyai jadza’, Rasulullah saw menjawab, “Berkurbanlah dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Jabir ra, Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mengurbankan binatang kecuali yang berumur satu tahun ke atas, jika itu menyulitkanmu, maka sembelihlah domba Jadza’.”
Berkorban dengan Kambing yang Dikebiri
Boleh-boleh saja berkurban dengan kambing yang dikebiri. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah saw berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang keduanya berwarna putih bercampur hitam lagi dikebiri. Karena dagingnya lebih enak dan lebih lezat.
Binatang-Binatang yang Tidak Diperbolehkan untuk Kurban
Syarat-syarat binatang yang untuk kurban adalah bintang yang bebas dari aib (cacat). Karena itu, tidak boleh berkurban dengan binatang yang aib seperti di bawah ini:
1. Yang penyakitnya terlihat dengan jelas.
2. Yang buta dan jelas terlihat kebutaannya
3. Yang pincang sekali.
4. Yang sumsum tulangnya tidak ada, karena kurus sekali.
Rasulullah saw bersabda, “Ada empat penyakit pada binatang kurban yang dengannya kurban itu tidak mencukupi. Yaitu yang buta dengan kebutaan yang nampak sekali, dan yang sakit dan penyakitnya terlihat sekali, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali.” (HR Tirmidzi seraya mengatakan hadis ini hasan sahih).
5. Yang cacat, yaitu yang telinga atau tanduknya sebagian besar hilang.

Selain binatang lima di atas, ada binatang-binatang lain yang tidak boleh untuk kurban, yaitu:
1. Hatma’ (ompong gigi depannya, seluruhnya).
2. Ashma’ (yang kulit tanduknya pecah).
3. Umya’ (buta).
4. Taula’ (yang mencari makan di perkebunan, tidak digembalakan).
5. Jarba’ (yang banyak penyakit kudisnya).

Juga tidak mengapa berkurban dengan binatang yang tak bersuara, yang buntutnya terputus, yang bunting, dan yang tidak ada sebagian telinga atau sebagian besar bokongnya tidak ada. Menurut yang tersahih dalam mazhab Syafi’i, bahwa yang bokong/pantatnya terputus tidak mencukupi, begitu juga yang puting susunya tidak ada, karena hilangnya sebagian organ yang dapat dimakan. Demikian juga yang ekornya terputus. Imam Syafi’i berkata, “Kami tidak memperoleh hadis tentang gigi sama sekali.“
Waktu Penyembelihan Hewan Kurban
Untuk kurban disyaratkan tidak disembelih sesudah terbit matahari pada hari ‘Iduladha. Sesudah itu boleh menyembelihnya di hari mana saja yang termasuk hari-hari Tasyrik, baik malam ataupun siang. Setelah tiga hari tersebut tidak ada lagi waktu penyembelihannya.

Dari al-Barra’ ra Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini (Iduladha) adalah kita salat, kemudian kita kembali dan memotong kurban. Barangsiapa melakukan hal itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu, maka sembelihan itu tidak lain hanyalah daging yang ia persembahkan kepada keluarganya yang tidak termasuk ibadah kurban sama sekali.”

Abu Burdah berkata, “Pada hari Nahar, Rasulullah saw berkhotbah di hadapan kami, beliau bersabda: ‘Barangsiapa salat sesuai dengan salat kami dan menghadap ke kiblat kami, dan beribadah dengan cara ibadah kami, maka ia tidak menyembelih kirban sebelum ia salat’.”

Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum salat, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah salat dan khotbah, sesungguhnya ia telah sempurnakan dan ia mendapat sunnah umat Islam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Bergabung dalam Berkurban
Dalam berkurban dibolehkan bergabung jika binatang korban itu berupa onta atau sapi (kerbau). Karena, sapi (kerbau) atau unta berlaku untuk tujuh orang jika mereka semua bermaksud berkurban dan bertaqarrub kepada Allah SWT.

Dari Jabir ra berkata, “Kami menyembelih kurban bersama Nabi saw di Hudaibiyyah seekor unta untuk tujuh orang, begitu juga sapi (kerbau).” (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Pembagian Daging Kurban
Disunahkan bagi orang yang berkurban memakan daging kurbannya, menghadiahkannya kepada para kerabat, dan menyerahkannya kepada orang-orang fakir. Rasulullah saw bersabda, “Makanlah dan berilah makan kepada (fakir-miskin) dan simpanlah.”

Dalam hal ini para ulama mengatakan, yang afdhal adalah memakan daging itu sepertiga, menyedekahkannya sepertiga dan menyimpannya sepertiga.

Daging kurban boleh diangkut (dipindahkan) sekalipun ke negara lain. Akan tetapi, tidak boleh dijual, begitu pula kulitnya. Dan, tidak boleh memberi kepada tukang potong daging sebagai upah. Tukang potong berhak menerimanya sebagai imbalan kerja. Orang yang berkurban boleh bersedekah dan boleh mengambil kurbannya untuk dimanfaatkan (dimakan).

Menurut Abu Hanifah, bahwa boleh menjual kulitnya dan uangnya disedekahkan atau dibelikan barang yang bermanfaat untuk rumah.
Orang yang Berkurban Menyembelihnya Sendiri
Orang yang berkorban yang pandai menyembelih disunahkan menyembelih sendiri binatang kurbannya. Ketika menyembelih disunahkan membaca, “Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma haadza ‘an?” (Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ya Allah kurban ini dari ?[sebutkan namanya]).

Karena, Rasulullah saw menyembelih seekor kambing kibasy dan membaca, “Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma haadza ‘anni wa’an man lam yudhahhi min ummati” (Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah sesungguhnya (kurban) ini dariku dan dari umatku yang belum berkurban).” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Jika orang yang berkurban tidak pandai menyembelih, hendaknya dia menghadiri dan menyaksikan penyembelihannya.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Fatimah, bangunlah. Dan saksikanlah kurbanmu. Karena, setetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kau lakukan. Dan bacalah: ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku–korbanku–hidupku, dan matiku untuk Allah Tuhan semesta Alam. Dan untuk itu aku diperintah. Dan aku adalah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah,’ Seorang sahabat lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah saw, apakah ini untukmu dan khusus keluargamu atau untuk kaum muslimin secara umum?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bahkan untuk kaum muslimin umumnya’.” harga-jual-domba-kurban-bandung-1436-h-termurahislamic-art-kabah

Nikah secara Islami ( Munakahat )

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
5. Memahami hukum-hukum Islam tentang hukum keluarga.
5.1 Menjelaskan ketentuan hukum perkawinan dalam Islam.
◊ Menjelaskan ketentuan hukum Islam tentang nikah.
◊ Menjelaskan ketentuan hukum Islam tentang talak.
◊ Menjelaskan ketentuan hukum Islam tentang rujuk.
5.2 Menjelaskan hikmah perkawinan
◊ Menjelaskan hikmah nikah.
◊ Menjelaskan hikmah talak.
◊ Menjelaskan hikmah rujuk.
5.3 Menjelaskan ketentuan perkawinan menurut perundang-undangan di Indonesia
◊ Menjelaskan ketentuan perkawinan menurut perundang-undangan tentang perkawinan di Indonesia
◊ Menjelaskan tentang sahnya perkawinan menurut perundang-undangan tentang perkawinan di Indonesia
A. Pengertian Munakahat (Perkawinan)
Munakahat merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur pernikahan, menetapkan syarat-syarat dan rukun nikah dan menyebutkan kewajiban yang perlu ditaati oleh suami maupun istri untuk membentuk suatu keluarga yang bahagia.
Secara etimologi (bahasa) nikah artinya berkumpul, bergaul atau bercampur menjadi satu yang biasa disebut kawin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “nikah” berarti (1) perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi); (2) perkawinan.
Prof. Quraisy Syihab mengatakan bahwa : al-Quran menggunakan kata ini (nikah) untuk makna tersebut, disamping secara majazi diartikannya dengan “hubungan seks”. Kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan 23 kali.
Secara terminologi (istilah) nikah adalah suatu akad (ikatan perjanjian) yang disertai dengan ijab qabul dan menyebabkan halalnya pergaulan seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri serta timbulnya hak dan kewajiban bagi keduanya.
Banyaknya ayat-ayat atau hadis, yang membicarakan tentang pernikahan, menunjukkan bahwa pernikahan sangat penting dan sakral, kudus dan suci. Dan keturunan yang lahir dari pernikahan itu, juga suci. Dengan adanya pernikahan yang diatur oleh agama maka menjadi jelaslah perbedaan antara manusia dengan hewan.
B. Hukum Nikah
Untuk mencapai keluarga sejahtera yang dikenal dengan, “keluarga sakinah” bukanlah merupakan suatu perkara yang mudah, karena itu agama memberi tuntunan dan menetapkan hukum nikah kedalam lima bagian yaitu :
1. Jaiz atau mubah, artinya boleh, maksudnya seseorang boleh menikah dan boleh tidak menikah, ini merupakan hukum asal nikah.
2. Sunah, yaitu bagi seorang laki-laki yang berkemampuan untuk menikah dan telah sanggup memberi nafkah lahir batin serta dapat menjaga diri, sekalipun tidak segera menikah.
3. Wajib, artinya bagi seorang laki-laki yang mampu memberi nafkah lahir batin, berkeinginan untuk nikah dan takut tergoda atau terjerumus kepada perbuatan maksiat (zina) seandainya tidak segera menikah.
4. Makruh, yaitu bagi orang yang berkeinginan tetapi belum mampu memberi nafkah (belanja) lahir batin atau mengganggu pihak perempuan dalam melakukan kewajiban (menuntut ilmu).
5. Haram, Bagi orang yang berminat menyakiti wanita yang dinikahinya dan untuk balas dendam kepada keluarga wanita.
Sebagian ulama berpendapat bahwa pada prinsipnya nikah itu hukumnya sunah yaitu berupa anjuran bagi yang mampu dan berkehendak. Kita perhatikan hadis Nabi Muhammad Rasulullah saw:
اَلنِّكَاحُ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَليْسَ مِنِّى
Artinya :
“Nikah itu termasuk sunahku, maka barang siapa yang tidak melaksanakan sunahku, bukan termasuk golonganku”. (H.R. Ibnu Majah).
C. Tujuan Nikah
Tujuan nikah yang sejati dalam Islam dengan singkat adalah menuju kemaslahatan dalam rumah tangga, keturunan dan kemaslahatan masyarakat. Untuk mencapai masyarakat yang sejahtera haruslah dimulai dari pembinaan keluarga sejahtera. Jika setiap keluarga sejahtera, maka masyarakatpun akan sejahtera pula.
Adapun yang disebut dengan keluarga sejahtera adalah keluarga yang sehat, kuat rohaninya dan jasmaninya, berbudi pekerti yang luhur serta bertaqwa kepada Allah swt. Kebahagiaan dari kesejahteraan yang sejati hanya terwujud melalui pernikahan yang sah, dengan demikian free sex sangat ditentang dalam agama Islam, begitu pula perzinaan prostitusi dengan segala bentuknya.
Karena pernikahan bukanlah sekedar untuk menyalurkan syahwat birahi, akan tetapi lebih dari itu menciptakan ketenangan, keteraturan dan ketentraman dari situ akan lahir anak-anak saleh yang mengabdi kepada Allah dan berbakti terhadap kedua orang tuanya, bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Kasih sayang yang sejati akan membuahkan kesetiaan dan kebahagiaan dalam keluarga. Firman Allah swt. dalam Q.S. ar-Rüm ayat 21 :
•• •
Artinya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.( Q.S. ar-Rüm ayat 21)
Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa diantara tanda-tanda kehebatan Allah yang diperlihatkan kepada manusia adalah :
1. Allah menciptakan istri (pasangan) dari sesama manusia
2. Dengan menemukan istrinya (pasangan) itu akan membawa ketenangan (sakinah)
3. Dorongan untuk bertemunya pasangan itu adalah dikaruniakannya kedalam hati manusia cinta ( مَوَدَّةًً ) dan kasih ( رَحْمَة )
4. Menyadari hal itu pantaslah manusia beriman dan bersyukur kepadaNya.
Dengan demikian maka tujuan nikah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Untuk menyalurkan dan memperoleh kasih sayang dari orang lain.
2. Untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah. Kata سَكِيْنَة dari kata سَكَنَ yang berarti diam atau tenang. Dari kata tersebut keluarlah kata سِكِّيْن yang berarti pisau yang berfungsi sebagai alat pendiam atau penenang. Untuk hewan yang tadinya bergejolak dan meronta apabila disembelih dengan pisau maka hewan yang bergejolak dan meronta akan menjadi diam dan tenang selamanya. Dengan makna ini, nikah ibarat pisau yang membuat pelakunya merasa tenang (bahagia) setelah pernikahan itu. Demikianlah yang diuraikan oleh Prof.Quraisy Syihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran.
3. Mengikuti dan melaksanakan sunah Rasul. Artinya nikah, dengan ketentuan agama Islam, merupakan tradisi kemanusiaan yang diwarisi oleh para Rasul kepada generasi dan para pengikutnya. Sabda Rasulullah saw:
اَلنِّكَاحُ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَليْسَ مِنِّى (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه)
Artinya :
“Nikah itu termasuk sunahku, maka barang siapa yang tidak melaksanakan sunahku, bukan termasuk golonganku”. (H.R. Ibnu Majah).
4. Mendapatkan keturunan yang sah dan baik-baik. Disebut keturunan itu sah apabila lahir dari suami istri yang menikah menurut ketentuan syariat agama. Misalnya suami istri yang menikah bulan Januari maka secara syariat agama akan lahir kira-kira bulan November atau Desember. Kalau pasangan itu melaksanakan nikah bulan Januari, lalu melahirkan anak bulan Maret pada tahun yang sama, tentu itu bukan anak yang sah menurut syariat Islam.
5. Menghindarkan diri dari perbuatan zina. Dengan pernikahan dorongan birahi dapat tersalurkan secara halal dan sehat ( حَلاَلاً طَيِّبًا ). Dan perbuatan zina dalam syariat Islam termasuk tindakan kotor dan buruk. Firman Allah dalam Q.S. al-Isra (17): 32

Artinya :
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. al-Isra : 32)
Firman Allah dalam Q.S. an-Nür (24) : 30

Artinya :
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.( Q.S. an-Nür : 30)
6. Mempererat hubungan famili.
Dengan pernikahan, diharapkan persaudaraan antara dua keluarga menjadi erat silaturrahim menjadi luas. Karena kuatnya persaudaraan dan silaturrahim menurut Rasulullah menjadi salah satu tanda orang beriman kepada Allah dan hari akhir. Sabda Rasulullah saw :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (رَوَاهُ مُسْلِمْ)
Artinya :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi.(H.R. Muslim)
D. Ketentuan Nikah
1. Syarat sah Nikah
Sebelum pernikahan dilaksanakan, ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak (calon suami dan calon istri ), yang disebut syarat agar kedua pernikahan itu sesuai dengan tujuannya.
Adapun yang menjadi syarat nikah ialah :
a. Beragama Islam. Artinya, calon suami istri tersebut sebaiknya sesama muslim (Q.S. al-Baqarah (2) ayat 221)
b. Bukan mahramnya (Q.S. an-Nisa (4) ayat 23)
c. Saling mengenal dan suka sama suka (Q.S. an-Nisa (4) ayat 3 dan Q.S. ar-Rüm (30) ayat 21)
d. Ada mahar yang dikeluarkan oleh calon suami (Q.S.an-Nisa (4) ayat 4 dan 25)
e. Tidak dalam ihram
f. Tidak bersuami dan tidak dalam iddah bagi calon istri
2. Rukun Nikah
Pernikahan menjadi sah apabila dipenuhi syarat dan rukunnya. Adapun yang menjadi rukun nikah ada 4 macam, yaitu :
a. Adanya dua calon mempelai
b. Wali (wali mempelai wanita).
Sabda nabi saw.
لاَنِكَاحَ اِلاَّ بِوَلِيِّ (رَوَاهُ أَحْمَد عَنْ اَبِى بَرْدَة)
Artinya :
Tidak sah nikah kecuali dengan (izin) wali (H.R.Ahmad dari Abi Bardah)
c. Ada dua orang saksi
d. Sighat (akad) yang terdiri dari Ijab dan Qabul. Ijab yaitu perkataan dari pihak wali perempuan, seperti kata wali “ Saya nikahkan engkau dengan anak saya bernama si Fulanah dengan mahar … tunai/kredit”,
sedangkan Qabul adalah ucapan/jawaban pihak mempelai laki-laki atas ijab dari wali, seperti ucapannya : “Saya terima nikahnya si Fulanah dengan mahar yang disebutkan, tunai/kredit”. Sabda Rasulullah saw sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَة قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ الله ص.م : أَيُّمَا امْرَاَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ اِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
Artinya :
Barang siapa diantara wanita yang nikah dengan tidak diizinkan oleh walinya, maka perkawinannya batal.(H.R. 4 orang ahli hadis kecuali Nasai)
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله ص.م : لاَتُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَتُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا
Artinya :
Janganlah wanita menikahkan wanita, jangan pula seorang wanita menikahkan dirinya sendiri. (H.R. Daruqutni Ibnu Majah).
عَنْ عَائِشَة رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِى ص.م : قَالَ : لاَ نِكَاحَ اِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَي عَدْلٍ (رَوَاهُ أَحْمَد وَبَيْهَقِى)
Artinya :
Tidaklah sah nikah melainkan dengan wali dan dua orang saksi yang adil. (H.R. Ahmad dan Baihaqi)
Adapun susunan wali yang dianggap sah untuk menjadi wali mempelai wanita adalah sebagai berikut :
– Bapak
– Kakek (Bapak dari bapak mempelai wanita)
– Saudara laki-laki seibu-sebapak
– Saudara laki-laki sebapak
– Anak laki-laki dari saudara seibu sebapak
– Anak laki-laki dari saudara sebapak
– Saudara bapak yang laki-laki
– Anak laki-laki dari saudara bapak yang laki-laki
– Hakim
Syarat wali dan dua orang saksi :
– Islam
– Balig
– Berakal
– Merdeka
– Laki-laki
– Adil
3. Mahram (wanita-wanita yang haram dinikahi)
Menurut Islam tidak semua wanita boleh dinikahi karena disebabkan 3 hal :
a. Mahram Nasab yaitu haram dinikahi karena adanya hubungan keturunan, yang termasuk mahram nasab ada 7 orang :
1. Ibu dan seterusnya ke atas
2. Anak, cucu dan seterusnya ke bawah
3. Saudara perempuan seibu sebapak
4. Saudara perempuan ayah
5. Saudara perempuan ibu
6. Anak perempuan dari saudara laki-laki
7. Anak perempuan dari saudara perempuan (perhatikan Q.S. an-Nisa ayat 23)
b. Mahram Mushaharah yaitu haram dinikahi karena adanya hubungan perkawinan yaitu :
1. Ibu dari istri (mertua)
2. Ibu tiri
3. Anak tiri
4. Istri anak (menantu)
5. saudara perempuan istri atau ipar (Q.S. an-Nur ayat 23)
c. Mahram Radha’ah yaitu haram dinikahi karena adanya hubungan sesusuan, yaitu :
1. Ibu yang menyusukan
2. Saudara sesusuan (Q.S. an-Nisa (4) ayat 22-23 )
E. Kewajiban Suami Istri
Dalam perkawinan terdapat hak dan kewajiban yang timbul dari para suami istri . Kewajiban suami sebagai kepala rumah tangga terhadap istrinya dan anak-anaknya, istri sebagai ibu rumah tangga adalah merupakan hak istri terhadap suami dan anak-anaknya. Suami istri jika menjalankan kewajibannya dengan baik dan menggunakan hak dengan wajar, akan menghasilkan rumah tangga yang sakinah.
Adapun kewajiban suami dan istrinya adalah sebagai berikut :
1. Kewajiban suami
a. Memberi nafkah.
Suami wajib memberi nafkah istri dan anak-anaknya seperti, minum, makan, pakaian dan tempat tinggal. Firman Allah dalam Q.S. an-Nisa:34.
Artinya :
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.( Q.S. an-Nisa:34)
b. Memelihara, mendidik dan memimpin istri dan anak-anaknya serta bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan keluarga. Suami harus bertanggung jawab terhadap keluarganya, pendidikan anak-anak, menjaga hubungan yang harmonis dengan istri dan anak-anaknya serta berusaha membimbing keluarga menjadi manusia yang bertaqwa. Firman Allah swt dalam Q.S. at Tahrim :6

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. ( Q.S. at Tahrîm :6)
c. Berlaku sopan
Berlaku sopan berbuat baik dan memberi kesempatan kepada istrinya untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Sabda Nabi saw :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَِهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَِهْلِى (رَوَاهُ ابْن مَاجَه)
Artinya :
“ Laki-laki (suami) yang baik ialah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluarganya”.(H.R. Ibnu Majah)
2. Kewajiban Istri
a. Taat kepada suami
b. Menjaga kehormatan diri dan keluarganya
c. Menghargai dan menghormati pemberian suaminya walaupun sedikit.
d. Tidak keluar rumah tanpa izin suami
e. Memelihara dan mendidik anak-anak dan suaminya
f. Mengatur dan menjaga rumah tangganya
g. Memelihara dan menjaga rahasia rumah tangganya.
Allah berfirman dalam Al-Quran Surat an-Nisa ayat 34

Artinya :
Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Q.S. an Nisa: 34)
F. Talak
1. Pengertian Talak
Talak menurut bahasa bercerai. Sedangkan menurut istilah adalah seorang suami melepaskan ikatan pernikahannya dengan seorang istri, sekiranya dalam pergaulan suami istri tidak dapat mencapai tujuan perkawinan yang sebenarnya. Bahkan jika pergaulan suami istri tidak terdapat lagi kedamaian, tiada lagi saling mencintai, tidak lagi saling tolong-menolong, perceraian adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh.
Sabda Rasulullah saw :
عَنْ أَبِى عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَبْغَضُ الْحَلاَلِ عِنْدَ اللهِ اَلطَّلاَقُ (رَوَاهُ اَبُوْ دَوُدوَابْنُ مَاجَه)
Artinya :
“ Dari Ibnu Umar katanya, telah berkata Rasulullah saw. perbuatan yang halal yang amat dibenci Allah yaitu talak”. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)
2. Hukum Talak
Ditinjau dari segi kemaslahatan atau kemudharatannya maka hukum talak ada empat, yaitu :
a. Makruh yaitu hukum asal dari pada talak.
b. Sunah apabila suami tidak sanggup lagi memberi nafkah lahir batin dengan cukup.
c. Wajib apabila terjadi perselisihan antara suami dan istri sedangkan hakim memandang perlu supaya keduanya bercerai.
d. Haram dalam dua keadaan :
– Menjatuhkan talak ketika istri dalam keadaan haid.
– Menjatuhkan talak sewaktu dalam keadaan suci dan telah dicampuri dalam keadaan suci tersebut.
3. Lafaz Talak
Lafaz yang digunakan untuk menjatuhkan talak ada dua macam :
a. Sharih yaitu lafaznya jelas berarti talak. Contoh : Saya ceraikan kamu, Saya talak kamu, engkau saya ceraikan, dan sebagainya. Dengan ucapan semacam itu maka jatuhlah talak, walaupun tidak ada niat dihatinya untuk menceraikan istrinya, baik disengaja atau tidak disengaja.
b. Kinayah yaitu dengan kata-kata sindiran. Contoh : Pulanglah kamu ke rumah orang tuamu, engkau sekarang bukan istriku lagi, pergilah dari sini, dan sebagainya. Ucapan seperti ini bisa menjatuhkan talak apabila ada niat dihati suami untuk menceraikannya.
4. Bilangan Talak
Seorang suami bisa menjatuhkan talak kepada istrinya maksimal 3 kali. Pada talak satu dan dua, suami berhak rujuk (kembali) kepada istrinya sebelum habis masa iddahnya atau nikah lagi apabila masa iddahnya sudah habis. Sebab itu talak satu dan dua disebut juga Talak Raj’iyah.
Pada talak tiga, suami tidak boleh rujuk (kembali dan tidak boleh nikah lagi dengan istrinya yang telah diceraikannya itu, kecuali ia telah dinikahi oleh laki-laki lain (muhalil) dan sudah digauli serta telah ditalak oleh suami keduanya itu dan telah habis masa iddahnya. Talak tiga ini disebut juga Talak Bain Kubra. Allah menjelaskan dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 230

Artinya :
Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri ) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. (Q.S. al-Baqarah ayat 230)
Ada lagi jenis talak yang lain, yaitu Talak Bain Shugra, ialah talak satu atau dua yang diminta oleh istri yang disertai dengan uang tebusan (‘iwadh). Pada talak semacam ini suami tidak boleh rujuk lagi, kecuali harus dengan akad nikah yang baru. Talak semacam ini disebut juga Khulu’ (talak tebus).
Selain kata-kata talak yang dapat menyebabkan terjadinya perceraian, namun ada juga kalimat-kalimat yang digunakan oleh suami yang bersifat halus untuk menyembunyikan maksud hatinya. Cara-cara ini merupakan cara adat arab jahiliyah, setelah Islam datang cara tersebut dihapus dengan membatasi masa berlalunya. Cara-cara tersebut sebagai berikut :
a. Zihar artinya punggung yaitu suami berkata kepada istrinya, “Punggungmu seperti punggung ibuku”. Dengan kata lain suaminya mempersamakan istrinya dengan ibunya atau muhrimnya yang lain. Padahal ibunya adalah wanita yang haram dinikahi. Suami yang sudah terlanjur menzihar istrinya sebelum mencampuri wajib membayar kafarat. Adapun kafarat zihar adalah memerdekakan budak, jika tidak mampu harus berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak kuat berpuasa wajib memberi makan 60 orang fakir miskin. (Perhatikan Q.S. al-Mujadalah (58) : 2-4).
b. Lian artinya sumpah suami yang menuduh istri berzina, maksudnya terjadi perceraian karena suami menuduh istrinya berzina tanpa dapat menghadirkan empat orang saksi. Jika suami tidak sanggup menghadirkan empat orang saksi untuk memperkuat tuduhannya, maka suami wajib bersumpah atas nama Allah sebanyak empat kali, yang mengatakan bahwa istrinya benar-benar berzina. Dan sumpah yang kelima dengan mengatakan bahwa sang suami siap menerima laknat Allah jika ia berdusta. Begitu juga sebaliknya jika istri melakukan sumpah yang sama untuk menolak tuduhan suaminya, dan istri siap menerima murka Allah jika tuduhan suaminya benar, Akibat terjadinya li’an (sama dengan ba’in kubra), maka suami istri tidak boleh merujuk dan tidak boleh menikah lagi untuk selama-lamanya (perhatikan Q.S. an-Nur ayat 6-9).
c. Ilaa artinya menolak mencampuri istri dengan sumpah. Maksudnya suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya selama empat bulan. Dalam empat bulan itu suami wajib kembali kepada istrinya dengan membayar kafarat sumpah, dengan berpuasa tiga hari berturut-turut atau memberi makan sepuluh orang fakir miskin. Jika ia tidak kembali kepada istrinya dalam empat bulan maka telah jatuh talak (Ba’in Sugra) yaitu tidak boleh rujuk. (perhatikan Q.S. al-Baqarah ayat 226-227).
Selain daripada cara tersebut ada lagi cara membatalkan pernikahan yang menjadikan jatuh talak, yaitu :
a. Fasakh. Artinya membatalkan dan melepaskan ikatan pertalian antara suami istri . Fasakh bisa terjadi karena ada syarat-syarat yang tidak terpenuhi pada akad nikah atau karena hal lain hal ini terjadi berdasarkan keputusan hakim atas permintaan wali.
b. Khulu’. Artinya perceraian atas inisiatif (permintaan) istri. Dimana istri mengembalikan mahar yang pernah diberikan oleh suami. Khulu’ disebut juga dengan talak tebus.
G. Iddah
Iddah yaitu masa menunggu yang diwajibkan atas istri yang ditalak baik cerai hidup maupun cerai mati. Gunanya supaya diketahui apa istri sedang hamil atau tidak. Dan juga memberi kesempatan kepada mantan suami untuk menggunakan hak rujuknya terhadap istri yang tertolak satu dan dua. Masa iddah bagi wanita yang dicerai ada lima macam yaitu :
1. Wanita yang tertalak satu atau dua dan masih berhaidh, iddahnya tiga kali suci. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 228 :

Artinya :
Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru (suci).( Q.S. al-Baqarah ayat 228)
2. Wanita yang tertalak dan tidak haid lagi (telah manopause), masa iddahnya adalah tiga bulan. Firman Allah dalam surat at-ëalaq ayat 4:
Artinya :
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (manopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan.( Q.S. at-thalaq ayat 4)
3. Wanita yang tertalak dalam keadaan hamil, iddahnya sampai melahirkan anak yang dikandungnya. Firman Allah dalam surat at-Thalaq ayat 4:
Artinya :
Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.(Q.S. at-Thalaq ayat 4)
4. Wanita yang diceraikan, namun belum digauli, tidak ada masa iddahnya.
Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 49 :

Artinya :
kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.(Q.S. al-Ahzab ayat 49)
5. Wanita yang cerai mati (suaminya wafat) iddahnya 4 bulan 10 hari. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 234:

Artinya :
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. (Q.S. al-Baqarah ayat 234)
H. Rujuk
1. Pengertian Rujuk
Rujuk ialah suami kembali kepada istrinya yang telah diceraikan, untuk mewujudkan pernikahan semula sesuai dengan ketentuan agama.
Rujuk artinya kembali, dan yang dimaksud disini adalah kembali kepada ikatan pernikahan. Rujuk tidak memerlukan akad nikah baru karena akad nikahnya belum terputus.
2. Hukum Rujuk
Sama halnya hukum nikah, hukum rujuk pada dasarnya adalah boleh (jaiz). Kemudian bisa menjadi haram, makruh, sunah dan wajib.
a. Haram, apabila diniatkan niat rujuknya hanyalah untuk menyakiti si istri , atau agar si istri lebih menderita.
b. Makruh, bila diketahui bahwa meneruskan perceraian lebih bermanfaat bagi keduanya dibandingkan jika keduanya rujuk.
c. Sunah, jika diketahui bahwa rujuk lebih baik dibandingkan dengan meneruskan perceraian.
d. Wajib, khusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu jika salah seorang ditolak sebelum gilirannya disempurnakannya.
3. Syarat-syarat suami merujuk istri
a. Dengan kehendak sendiri (tidak dipaksa orang lain).
b. Dengan perkataan, baik secara terang-terangan maupun dengan cara sindiran.
c. Ada dua saksi sesuai dengan firman Allah dalam surat at-Thalaq ayat 2
I. Hikmah Nikah
Mewujudkan keluarga sakinah menurut ajaran Islam dimulai dengan memberi pedoman pemilihan jodoh, Islam telah mengajarkan suatu batasan-batasan sebagai norma dalam mencari calon istri dan sebaliknya juga mencari calon suami. Sabda Nabi saw:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَِرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِنَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَر لِذَان الدِّيْنِ تَرِبَت يَدَاكَ (رَوَاهُ البُخَارِى وَمُسْلِم)
Artinya :
“Kami nikahi wanita itu dengan syarat, karena hartanya, karena keturunannya, karena cantiknya, karena agamanya, maka pilihlah yang terbaik karena agamanya, semoga kamu semua diselamatkan Allah swt”.(H.R.Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan dapat melihat kepada wanita atau laki-laki sebagai calon istri atau calon suaminya, adalah dalam bentuk pertemuan yang ditemani oleh muhrimnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak memaksa seseorang dalam membina kehidupan berkeluarga yang berpengaruh kepada keturunan dan masyarakat. Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam pernikahan diantaranya :
1. Kesempurnaan ibadah
2. Kelangsungan keturunan
3. Ketenangan batin
4. Meningkatkan ekonomi keluarga
5. Terpelihara dari dosa dan noda (zina)
6. Terjalin ukhuwah satu keluarga, suami istri yang mana pertalian itu akan menjadi satu jalan yang membawa kepada bertolong-tolongan.
J. Sekilas Perkawinan Menurut UU No.1 Tahun 1974
UU no.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan terdiri dari 14 bab dan terbagi dalam 67 pasal.
1. Pengertian dan tujuan perkawinan
Dalam bab I pasal I UU No. 1 tahun 1974 dijelaskan bahwa “Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa”.
2. Sahnya perkawinan dan kewajiban pencatatan perkawinan
Bab 1 pasal 2 ayat 1 : Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya.
Bab 1 pasal 2 ayat 2 : Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia ada dua instansi yang bertugas mencatatnya, yaitu KUA bagi yang beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil bagi non muslim
3. Peranan peradilan Agama dalam penetapan talak menurut UU No. 1 tahun 1974 dan UU no. 7 tahun 1989.
a. Menurut UU No. 1 tahun 1974 bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
b. Menurut UU No. 7 tahun 1989 menyatakan bahwa seorang suami yang beragama Islam yang akan menceraikan istrinya harus mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk mengadakan sidang. Pihak pengadilan mempelajari isi surat tersebut dalam waktu selambatnya 30 hari, kemudian memanggil yang bersangkutan untuk diminta penjelasannya.
Pengadilan memutuskan untuk mengadakan sidang dan menyetujui perceraian apabila terdapat alasan-alasan yang kuat dari kedua belah pihak.
K. Tentang Poligami
Dalam UU No. 1 Tahun 1974 pasal 1 ayat 1, 2 : Menyatakan bahwa pada dasarnya dalam satu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri. Seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami.
Seorang suami yang akan beristri lebih dari satu orang (poligami) wajib mengajukan permohonan kepada pengadilan dengan persyaratan:
a. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri .
b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c. Istri tidak dapat memberi keturunan.
Persyaratan lain adalah :
a. Adanya persetujuan dari istri baik lisan maupun tulisan.
b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup semua keluarga.
c. Adanya jaminan suami akan berlaku adil kepada semua istri dan anak-anaknya.
L. Tugas
Perorangan
1. Jelaskan pengertian nikah baik secara lughawi maupun istilah !
2. Jelaskan syarat-syarat sahnya nikah !
3. Jelaskan empat macam rukun nikah !
4. Sebutkan sebab-sebab mahram !
5. Sebutkan tujuan nikah !
6. Jelaskan 5 hukum nikah !
7. Jelaskan macam-macam talak !
8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan : Khulu’, Lian, Ìihar, Fasakh !
9. Jelaskan syarat sahnya nikah menurut UU No.1/1974 !
10. Jelaskan pendapatmu tentang nikah sirri !

Inilah 6 Kelemahan Setan & Jin

Walaupun setan dan jin mempunyai kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia, akan tetapi al-Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa hakikatnya setan dan tipu dayanya itu adalah lemah. Berikut adalah beberapa macam kelemahan setan dan jin , diantaranya:

1. Tidak bisa mengalahkan orang-orang saleh.

Bukti bahwa setan atau jin tidak akan dapat mengalahkan orang saleh adalah perkataan setan sendiri ketika berdialog dengan Allah dalam surat al-Hijr ayat 39-

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Al- Hijr 15: 39-40).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa yang menyebabkan setan itu dapat menguasai seseorang adalah karena perbuatan dosanya. Ketika seseorang itu dekat dengan Allah, maka setan pun akan lari dan tidak akan pernah berani mendekatinya apalagi menguasainya.

2. Setan takut dan lari oleh sebagian hamba Allah

Apabila seseorang betul-betul memegang ajaran agamanya dengan benar serta menancapkan keimanannya dengan tangguh, maka setan pun akan takut dan lari. Hal ini misalnya terdapat pada diri Umar bin Khatab. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Turmu-dzi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umar: “Sesungguhnya setan sangat takut olehmu, wahai Umar” (HR. Turmudzi).

Bukan hanya kepada Umar, akan tetapi setan (jin kafir) juga akan takut oleh orang-orang beriman yang betul-betul dengan keimanannya. Dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir pernah mengutip sebuah hadits berikut ini:

“Sesungguhnyaorang mukminakan dapat mengendalikan (mengalahkan) syaithannya sebagaimana salah seorang dari kalian yang dapat mengendalikan untanya ketika bepergian” (HR. Ahmad).
Inilah Tempat Tinggal Jin

Bahkan, apabila seseorang betul-betul dan terus menerus taat dan shaleh, ia dapat membawa qarinnya (penyertanya, karena setiap manusia itu pasti disertai oleh setan (jin kafir) di sebelah kirinya dan malaikat di sebelah kanannya atau sering disebut dengan qarin) masuk Islam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada seorangpun kecuali ia disertai oleh seorang qarin (penyerta) dari jin dan seorang qarin (penyerta) dari malaikat”. Para sahabat bertanya: “Apakah termasuk Anda juga wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Ya termasuk saya, hanya saja Allah menolong saya sehingga jin itu masuk Islam. Ia (jin tadi) tidak pernah menyuruh saya kecuali untuk kebaikan” (HR. Muslim).

3. Jin takluk dan taat kepada Nabi Sulaiman.

Di antara mukjizat Nabi Sulaiman adalah dapat menaklukan jin dan setan sehingga semuanya dapat bekerja atas perintahnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ayat al-Qur’an berikut ini dalam surat Shad ayat 36-38:

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu” (QS. Shad ayat 36-38).

Mukjijat ini diberikan kepada Nabi Sulaiman sebagai pengabulan atas doanya yang mengatakan:

“Dan berikanlah kepadaku kerajaan yang tidak diberikan kepada seseorang setalahku” (QS Shad 38:35).

Doa Nabi Sulaiman inilah yang menyebabkan Rasulullah tidak jadi untuk mengikat jin yang datang dengan melemparkan anak panah ke muka beliau. Dalam sebuah hadits Muslim dikatakan:

“Dari Abu Darda berkata : “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun, tiba-tiba kami mendengar Rasulullah mengatakan: “Aku berlindung kepada Allah darimu”, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berkata: “Allah telah melaknatmu” sebanyak tiga kali. Rasulullah lalu menghamparkan tangannya seolah-olah beliau sedang menerima sesuatu. Ketika Rasulullah selesai shalat, kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami mendengar anda mengatakan sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Kami juga melihat anda membukakan kedua tangan anda”. Rasulullah menjawab: “Barusan Iblis, musuh Allah datang membawa anak panah api untuk ditancapkan di muka saya, lalu aku berkata: “Aku berlindung kepada Allah darimu” sebanyak tiga kali, kemudian saya juga berakata: “Allah telah melaknatmu dengan laknat yang sempurna” sebanyak tiga kali. Kemudian saya bermaksud untuk mengambilnya. Seandainya saya tidak ingat doa saudara kami, Sulaiman, tentu saya akan mengikatnya sehingga menjadi mainan anak-anak penduduk Madinah” (HR. Muslim).

4. Jin atau setan tidak dapat menyerupai Rasulullah

Setan dan jin tidak dapat menyerupai bentuk dan muka Rasulullah Saw. Oleh karena itu, apabila seseorang bermimi melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ia sungguh telah melihatnya. Dalam hadits shahih dikatakan:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang bermimpi melihatku, maka dia sungguh telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupaiku” (HR. Muslim).

5. Jin dan setan tidak dapat melewati batas-batas tertentu di langit

Sekalipun jin dan setan mempunyai kelebihan dapat bergerak dengan cepat, akan tetapi mereka tidak akan dapat melewati batas-batas yang sudah ditetapkan yang tidak dapat dilalui selain oleh para malaikat.

Karena apabila mereka berani melewatinya, maka mereka akan binasa dan hancur. Karena itu pula, jin tidak dapat mengetahui dan mencuri informasi dari langit sehingga apa yang dibisikkannya ke tukang-tukang ramal dan dukun adalah kebohongan semata. Untuk lebih jelasnya akan hal ini, dapat dilihat dalam surat al-Rahman ayat 33-35).

6. Jin tidak dapat membuka pintu yang sudah ditutup dengan menyebut nama Allah

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah (ketika menutupnya), karena setan tidak akan membuka pintu yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah. Tutup jugalah tempat air minum (qirab dalam bahasa Arab adalah tempat menyimpan air minum yang terbuat dari kuit binatang) dan bejana-bejana kalian (untuk masa sekarang seperti lemari, bupet, kulkas dan lainnya) sambil menyebut nama Allah, meskipun kalian hanya menyimpan sesuatu di dalamnya dan (ketika hendak tidur), matikanlah lampu-lampu kalian” (HR. Muslim). [akhirzaman]IYUS1 yu

7 Indikator Kebahagiaan Dunia Menurut Sahabat Ibnu Abbas

Siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Abbas. Sahabat senior yang selalu menyertai baginda Rosulullah sallallahu alaihi wasallam. Dikalangan para mufassir, beliaulah terunggul di antara yang lain. pada umur 9 tahun saja ibnu Abbas kecil telah hafal Al-Qur’an dan menjadi imam masjid. Sampai Nabi pun pernah berdo’a khusus untuk beliau.
“Allahumma faqqohhu fiidaini,wa a’llamhutta’wiila”
artinya:“ya Allah,berilah kepadanya pemahaman tentang agama dan ajarilah dia tentang takwil”
Suatu hari ia pernah ditanya oleh para tabi’in tentang mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Ibnu Abbas menjawab, ada 7 indikator mengenai kebahagiaan dunia:
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, AmiinIYUS1

Pengertian dan Hubungan antara Iman Islam dan Ihsan

Suatu ketika malaikat Jibril dalam rupa seorang manusia datang kpd Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam & para shahabat utk mengajarkan tentang pokok-pokok ajaran agama, yaitu Islam, Iman & Ihsan. (Hadis Riwayat: Muslim).
Hadits tersebut kemudian dikenal dgn Hadits Jibril, sebuah hadits yg dipandang oleh para ulama mempunyai posisi yg sangat penting, karena mencakup semua amal baik lahir maupun batin serta menjadi referensi ajaran Islam.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَا الإِيمَانُ قَالَ الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ، قَالَ: مَا الإِسْلاَمُ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ، قَالَ: مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتْ الأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ الآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ (أخرجه البخارى فى : كتاب الإيمان : 37 . باب سؤال جبريل النبي ص.م. عن الإيمان والإسلام). مسلم: عن الإيمان: 57. ابو داوود: سنة, 16. ترميذى: الإيمان, 4. ابن ماجه: مقدمة. 9 . احمد بن حنبل: 1,27,51, 19,29.
Musaddad telah menceritakan kpd kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kpd kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kpd kami dari Abu Hurairah r.a berkata: Pada sesuatu hari ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki & bertanya, “apakah iman itu?”. Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “iman adl percaya Allah Subhanahu wa ta’ala, para malaikat-Nya, & pertemuannya dgn Allah, para Rasul-Nya & percaya pd hari berbangkit dari kubur. ‘Lalu laki-laki itu bertanya lagi, “apakah Islam itu? Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam ialah menyembah kpd Allah & tdk menyekutukan-Nya dgn sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yg difardhukan & berpuasa di bulan Ramadhan.” Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah Ihsan itu?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kpd Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tdk mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. “Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah hari kiamat itu? “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “orang yg ditanya tdk lbh mengetahui daripada yg bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, & jika penggembala onta & ternak lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk 5 perkara yg tdk dpt diketahui kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Sesungguhnya Allah hanya pd sisi-Nya sajalah yg mengetahui hari kiamat… (ayat).[1] Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kpd para sahabat: “antarkanlah orang itu. Akan tetapi para sahabat tdk melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Itu adl Malaikat Jibril a.s. yg datang utk mengajarkan agama kpd manusia.” (Hadis Riwayat: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah & Ahmad bin Hambal).
Islam
Dalam hadits tersebut, Islam dijelaskan dgn penjabaran 5 rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa & haji.
Syahadat merupakan kesaksian bahwa tiada tuhan yg berhak disembah selain Allah & Nabi Muhammad adl utusan Allah. Shalat merupakan bentuk hubungan vertikal secara langsung antara hamba dgn Sang Khalik. Zakat adl wujud kepedulian sosial terhaadap sesama manusia. Puasa merupakan ujian melawan hawa nafsu. Dan haji adl ajang mempererat ukhuwah islamiyah dgn sesama saudara muslim dari seluruh dunia.
Kelima rukun tersebut merupakan amal lahiriah sbg perwujudan dari makna Islam itu sendiri, yaitu kepasrahan diri secara total kpd Allah. Artinya, kepasrahan sbg makna Islam tdk hanya disimpan dalam hati, melainkan diwujudkan lewat perbuatan nyata yaitu kelima rukun Islam tersebut.
Iman
Iman adl keyakinan dalam hati yg diucapkan oleh lisan & diwujudkan dalam amal perbuatan.
Keyakinan tersebut meliputi enam rukun iman, yaitu iman kpd Allah, malaikat, kitab, nabi & rasul, hari akhir, qadla & qadar.
Keenam rukun iman tersebut adl bentuk amal batiniah sbg wujud pengakuan hati manusia terhadap kebesaran Allah, yg nantinya akan mempengaruhi segala aktifitas yg dilakukan. Manusia adl makhluk dgn segala kelebihan & kekurangan yg ada. Keimanan akan membawa manusia ke titik penyadaran diri sbg hamba Allah yg tunduk di bawah kekuasaan Allah.
Ketika keyakinan terhadap keenam rukun tersebut sudah tertanam dalam hati, maka tentu kita akan berusaha utk menjalani kehidupan sesuai dgn koridor hukum Allah yg pd akhirnya akan membawa ke arah kehidupan yg berkualitas.
Ihsan
Ihsan adl cara bagaimana seharusnya kita beribadah kpd Allah. Rasulullah mengajarkan agar ibadah kita dilakukan dgn cara seolah kita berhadapan secara langsung dgn Allah. Cara ini akan membawa ibadah kita ke maqam (tingkat) yg lbh dekat kpd Allah dgn perasaan penuh harap, takut, khusyu’, ridlo & ikhlas kpd Allah. Perasaan tersebut menjadikan ibadah yg kita lakukan tdk hanya sekadar menjadi kewajiban, tetapi merupakan kebutuhan jiwa dalam penghambaan diri kpd Allah.
Jika cara tersebut belum bisa kita lakukan, maka ibadah kita lakukan dgn keyakinkan bahwa Allah pasti melihat & mengetahui semua yg kita lakukan. Dengan demikian, tentu kita akan berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan perintah & meninggalkan larangan Allah.
Hubungan antara iman islam & ihsan
Islam, Iman & Ihsan adl satu kesatuan yg tdk bisa dipisahkan satu dgn lainnya. Iman adl keyakinan yg menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dgn cara ihsan, sbg upaya pendekatan diri kpd Allah.
Untuk mempelajari ketiga pokok ajaran agama tersebut, para ulama mengelompokkannya lewat 3 cabang ilmu pengetahuan. Rukun Islam berupa praktek amal lahiriah disusun dalam ilmu Fiqh, yaitu ilmu mengenai perbuatan amal lahiriah manusia sbg hamba Allah. Iman dipelajari melalui ilmu Tauhid (teologi) yg menjelaskan tentang pokok-pokok keyakinan. Sedangkan utk mempelajari ihsan sbg tata cara beribadah adl bagian dari ilmu Tasawuf.

Dialog roh dengan Allah sebelum dilahirkan ke bumi

Suatu ketika, seorang bayi siap dilahirkan ke dunia. Menjelang dikeluarkan ke alam dunia, dia bertanya kepada Tuhan yang menciptakannya:
Bayi: “Tuhan, para malaikat di sini mengatakan bahwa besok aku akan dilahirkan ke dunia. Tetapi, bagaimana caranya aku hidup di sana? Aku begitu kecil dan lemah.”
Tuhan: “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan selalu menjaga dan menyayangimu setiap saat.”
Bayi: “Tapi aku sudah betah di surga ini, apa yang kulakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa, ini cukup bagiku untuk bahagia.”
Tuhan: “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan lebih berbahagia.”
Bayi: “Apa yang dapat kulakukan kalau aku ingin berbicara padamu?”
Tuhan: “Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa.”
Bayi: “Aku mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungiku Tuhan”?
Tuhan: “Malaikatmu akan melindungimu dengan taruhan jiwa raganya.”
Bayi: “Tapi aku akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi.”
Tuhan: “Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu.”
Saat itu surga begitu tenangnya … sehingga suara dari bumi pun dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya:
Bayi: “Tuhan… jika aku harus lahir ke dunia sekarang, bisakah Engkau memberitahuku, siapa nama malaikat di rumahku itu nanti”?
Tuhan: “Kamu akan memanggil malaikatmu itu dengan sebutan:IBU

Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya itu sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu. –