JADILAH UMAT YANG DIPILIH OLEH ALLOH SWT

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(QS: Muhammad:7)
Sebelum kita mengajak manusia kepada kebaikan kuasai lah
tiga pilar dibawah ini :
Sebuah faedah ilmu yang sangat berharga dari ulama besar masa silam Ahmad bin ‘Abdul Al Haroni yang dikenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau memberikan nasehat bagaimana kita seharusnya beramar ma’ruf nahi mungkar yaitu mengajak pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.
Syaikhul Islam mengatakan, “Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: [1] ilmu, [2] lemah lembut, dan [3] sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir). ”
Berikut rinciannya yang kami olah dari pembahasan Syaikhul Islam.
Pertama: Bekal Ilmu di Awal
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلُحُ
“Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka ia akan membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan banyak kebaikan.”
Begitu pula Mu’adz bin Jabal pernah mengatakan,
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
”Ilmu adalah pemimpin amalan. Sedangkan amalan itu berada di belakang ilmu.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ini memang benar. Yang namanya maksud dan amalan tanpa disertai ilmu, maka hanya mengakibatkan kebodohan, kesesatan dan sekedar mengikuti hawa nafsu sebagaimana telah dijelaskan. Inilah beda antara orang Jahiliyah dan seorang muslim. Seorang muslim haruslah membekali dirinya dengan ilmu dalam beramar ma’ruf nahi mungkar dan harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Seseorang juga harus mengetahui bagaimana kondisi orang yang akan diajak pada kebaikan dan dilarang dari kemungkaran. Di antara bentuk mendatangkan kebaikan adalah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar sesuatu tuntutan yang diajarkan dalam Islam (jalan yang lurus). Jika seseorang membekali dirinya dengan ilmu, maka itu akan membuat lebih cepat mengantarkan pada tujuan.”
Kedua: Lemah Lembut di Tengah-Tengah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Dalam amar ma’ruf nahi mungkar hendaklah ada sikap lemah lembut. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya jika lemah lembut itu ada dalam sesuatu, maka ia akan senantiasa menghiasanya. Jika kelembutan itu hilang, maka pastilah hanya akan mendatangkan kejelekan.”[1]
Begitu pula beliau bersabda,
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia menyukai kelembutan dan Dia akan memberi kepada kelembutan yang tidak diberikan jika seseorang bersikap kasar.”[2]
Ketiga: Bersabar di Akhir
Setelah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, haruslah ada sikap sabar terhadap setiap gangguan. Syaikhul Islam mengatakan, “Setiap orang yang ingin melakukan amar ma’ruf nahi mungkar pastilah mendapat rintangan. Oleh karena itu, jika seseorang tidak bersabar, maka hanya akan membawa dampak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”
Luqman pernah mengatakan pada anaknya,
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ
“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada para Rasul –dan mereka adalah imam (pemimpin) dalam amar ma’ruf nahi mungkar- untuk bersabar, sebagaimana hal ini Allah perintahkan pada penutup Rasul (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahkan perintah ini Allah sandingkan dengan penyampaian kerasulan. Hal ini dapat kita lihat dalam surat Al Mudatsir (surat yang merupakan tanda Muhammad menjadi Rasul), yang turun setelah surat Iqro’ (surat yang merupakan tanda Muhammad diangkat sebagai Nabi).
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ, قُمْ فَأَنْذِرْ, وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ, وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ, وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ, وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.” (QS. Al Mudatsir: 1-7)
Allah membuka surat yang merupakan pertanda beliau diangkat menjadi Rasul dengan perintah memberikan peringatan (indzar). Di akhirnya, Allah tutup dengan perintah untuk bersabar. Yang namanya memberi peringatan (indzar) adalah melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Maka ini menunjukkan bahwa sesudah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, hendaklah ia bersabar.
Demikian faedah dari Syaikhul Islam sebagai bekal bagi orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar.
Semoga kita dapat memperhatikan nasehat dalam setiap tindak tanduk kita ketika ingin memperbaiki orang lain. Hanya Allah yang memberi taufik.

UMAT TERPILIH (kajian tafsir ali Imran:110)
A. Teks Ayat dan Tarjamahnya
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Qs.3:110
B. Kaitan dengan Ayat Sebelumnya
1. Ayat sebelumnya (3:105) menyerukan agar mu`min jangan meniru orang yang berpecah belah, sebab bakal menimbilkan keseihan di akhirat kelak (Qs.3:106-107). Oleh karena itu hendaklah membangun umat yang setiap anggotanya menjalankan tugas sesuai bagian masing-masing sebagaimana diserukan pada ayat 104. Ayat 110 ini mengungkapkan bahwa umat yang tampil di depan manusia menjalankan amar ma’ruf nahy munkar berdasar iman, merupakan umat yang terbaik, umat yang terpilih.
2. Ayat sebelumnya mengecam ahl al-Kitab yang bercerai berai dalam menanggapi diutusnya Nabi Muhammad SAW. ayat selanjutnya menjamin, jika ahl al-Kitab itu beriman, maka akan menjadi umat yang terbaik pula.
C. Tinjauan Historis
Diriwayatkan bahwa Malik bin al-Dayif dan Wahb bin Yahudza yang keduanya keturunan yahudi berkata kepada Ibn Mas’ud, Mu`adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’b ديننا خير مما تدعونا إليه ونحن افضل منكم agama kami lebih baik dari agama yang kalian da’wahkan, bangsa kami lebih unggul di banding kalian. Tidak lama kemudian turunlah Qs.3:110 ini sebagai bantahan terhadap mereka.[1] Umat yang terbaik, setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebqagai rasul, bukanlah yahudi atau nahrani, tapi umat Islam.

D. Tafsir Kalimat
1. كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ Kamu adalah umat yang terbaik
Perkataan كُنْتُمْ berasal dari كَان berma’na keadaan, dan تُم berasal dari أنْتُم yang berarti kamu sekalian. Siapakah yang dikasud dengan أنْتُم yang berarti kamu sekalian pada ayat ini? Ibn al-Jauzi, yang menurutnya bersanadkan pada Ibn Abbas, berpendapat (1) انهم أهل بدر tentara muslim yang ikut perang Badar, (2) انهم المهاجرون al-Muhajirun (kaum muslimin yang ikut hijrah dari Mekah ke Madinah), (3) جميع الصحابة seluruh shahabat Rasul, (4) جميع امة محمد صلى الله seluruh umat Nabi Muhammad yang beriman.[2] Sedangkan خَيْرَ berarti terpilih, dan terbaik. Namun seperti diungkap dalam bahasan terdahulu, kategori baik yang diistilahkan خَيْر adalah yang dianggap baik dan terpilih secara syari’ah, walau mungkin oleh sebagian manusia tidak dianggap sebagai kebikan. Pada ayat ini ditegaskan bahwa kaum muslimin itu menjadi umat terbaik, dan terpilih. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud terbaik atau terpilih di sini, utamanya di sisi Allah SWT.[3] Menurut Abu Hurairah, yang dimaksud خَيْرَ أُمَّةٍ di sini adalah خير الناس للناس sebaik-baik manusia untuk manusia.[4] Jika ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelumnya (Qs.3:102-104), dapat difahami bahwa yang menjadi umat terpilih itu adalah yang memenuhi kriteria (1) iman, (2) taqwa, (3) membela Islam, (4) berpegang teguh pada tali Allah, (5) berjamaah, (6) menjaga kesatuan ukhuwah, (7) mensyukuri ni’mat, (8) menjauhi permusuhan, (9) berda’wah, (10) amar ma’ruf, (11) nahy munkar.
2. أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ yang dilahirkan untuk manusia,
Perkataan أُخْرِجَتْ asal artinya adalah dikeluarkan, menurut al-Jalalain adalah أُظْهِرَت ditampakkan, ditampilkan, atau dizhahirkan لِلنَّاسِ untuk manusia.[5] Sifat ini merupakan syarat agar menjadi umat terbaik mesti tampil di hadapan manusia, eksistensinya nampak. Eksistensi tersebut tentu saja dalam memberi manfaat untuk manusia lain, bukan menjadi beban mereka. Rasulul saw. bersabda: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi yang lainnya.Hr.al-Thabarani.[6] Redaksi lainnya berbunyi خير الناس أنفعهم للناس Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”Hr. al-Qadla`iy.[7] Kehidupan manusia agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera yang disebut الْمُفْلِحُون pada ayat 104, membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, manusia mu`min akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang dilakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Peranan أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ juga berma’na tampil menjadi pemimpin dalam segala aspek kehidupan yang lebih baik.
3. تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِmenyuruh kepada yang ma`ruf,
Keritera umat terbaik berikutnya adalah memerintah yang ma’ruf. Seperti dikemukakan pada bahasan yang lalu, peranan ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak memeiliki kekuasaan untuk memerintah. Oleh karena itu menjadi manusia terbaik mesti memiliki kekuasaan untuk memerintah yang ma’ruf. Semakin tinggi kekuasaannya untuk amar ma’rum semakin mulia kedudukannya sebagai umat pilihan. Semakian sering beramar ma’ruf semakin tinggai derajatnya bakal diraih. Perhatikan hadits berikut: عَنْ دُرَّةَ بِنْتِ أَبِي لَهَبٍ قَالَتْ قَامَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَأَتْقَاهُمْ وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ diriwayatkan dari Darrah binti Abi Lahab, seorang laki-laki menghadap Rasul SAW tatkala berada di atas mimbar. Orang itu bertanya Wahai Rasul manusia seperti apakah yang terbaik itu? Rasul bersabda: Manusia terbaik adalah yang paling baik dalam membaca al-Qur`an, yang paling taqwa, paling bagus amar ma’ruf, paling banyak nahy munkar, dan baik baik dalam menjalin silaturahimnya. Hr. Ahmad.[8] Dan dalam riwayat lain ada tambahan أفْقهُهُم فِي دين الله paling faham dalam bidang agama Allah SWT.
Secara garis besarnya, essensi hadits tersebut dalam digambarkan seperti berikut:
4. وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِdan mencegah dari yang munkar,
Keriteria manusia terbaik berikutnya adalah nahy munkar, yaitu mencegah kemunkaran. Rasul SAW bersabda: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ barangsiapa yang melihat kemunkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu maka hendaklah mengubahnya dengan lisan. Jika tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan sikap dalam hati. Namun yang terakhir ini adalah orang yang paling lemah imannya. Hr.Msulim, Abu Daud, dan al-Tirmidzi. [9]
Berdasar hadits ini, orang yang paling tinggai derajat imannya adalah yang bisa memberantas kemunkaran dengan tangan, alias kekuasaannya. Orang yang tidak berdaya dalam memberantas kemunkaran, melainkan hanya dalam hati, maka paling lemah imannya. Semakin berkuasa memberantas kemunkaran, semakian tinggi dan kuat imannya. Semakian rendah kualitas dalam memberantas kemunkaran maka semakin rendah pula nilai keimanannya. Dalam riwayat lainnya, Rasul SAW bersabda:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ لا يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ الله بِعِقَابِهِ
Sesungguhnya manusia yang jika melihat kemunkaran dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menimpakan siksaan-Nya secara keseluruhan. Hr. Ibn Abi Syaybah dan Ibn Majah. [10]

5. وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ dan beriman kepada Allah.
Keriteria manusia terbaik yang laing pokok adalah beriman jepada Allah. Yang dimaksud beriman pada Allah tentu saja mencakup atas segala yang mesti diimani berdasar apa yang diajarkan-Nya. Keimanan baru dianggap bnar apabila mengimani seluruh apa yang mesti diimani yaitu enam rukunnya. Dalam hadits diterangkan lebih rinci bahwa rukun iman itu adalah enam. Rasul SAW bersabda: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ iman adalah beriman pada Allah, mala`ikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, pada hari akhir dan pada taqdir baik dan buruknya. Hr. Ahmad.[11] Dengan demikian kepercayaan seratus prosen hanyalah kepada yang enam yang disebutkan dalam hadits ini. Tidak ada yang mesti dipercayai sepenuhnya selain pada apa yang tersirat dan tersurat pada rukun iman tersebut. Inilah perinsip pertama dan utama untuk mencapai derajat kebaikan. Itulah sebabnya ulama aqidah memberikan definsi iman dengan التَّصْدِيْق بِمَا جَاء بهِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم membenarkan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yang diucapkan oleh lisan, diyakini dalam hati serta diwujudkan dalam amal perbuatan.
6. وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka;
Jika ahl al-Kitab itu beriman sebagaimana mestinya termasuk mengimani Rasul SAW dan ajaran yang dibawanya, maka mereka akan menjadi umat terbaik pula. Tegasnya yahudi nashrani, atau pun bani Isrta`il lainnya, saat ini tidak menjadi manusia terbaik lagi, kecuali yang telah beriman kepada enam rukunnya, menjadi muslim yang menjalankan al-Qur`an dan sunnah Rasul SAW. Jika berbagai ayat mengungkapkan bahwa Bani isra`il itu telah diangkat derajatnya di atas bangsa lain, maka jelaslah yang beriman. Sejak Rasul SAW diutus maka derajat manusia tidak dibedakan oleh ras atau keturunan mana, melainkan ditentukan oleh derajat keimanan dan ketaqwaannya. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak mau beriman kepada Rasul SAW, maka tidak meraih derajat terbaik, sebqai mana ditegaskan pada pengunci ayat.
7. مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik
Ada di antara ahl al-kitab yang beriman seperti di jaman Rasul SAW antara lain Abd Allah bin Salam, Asad, Usaid bin Ka’ab. Namun kebanyakan di antara mereka ada yang fasiq. Bahkan ada yang menjadi musuh Islam serta memerangi kaum muslimin. Di antara ahl al-Kitab yang sangat memusuhi Islam adalah Ka’b bin Asyraf, Huyay bin Akhthab.
E. Beberapa Ibrah
1. Umat Islam adalah umat yang terbaik karena eksistentsinya nampak di hadapan manusia, selalu amar ma’ruf dan anhy munkar yang dilandasi iman dengan sebenar-benarnya iman.
2. Siapa pun tidak akan meraih derajat sebagai umat terbaik atau khaira ummah kecuali yang beriman, eksis di hadapan manusia, amar ma’ruf dan nahy munkar.
3. Ahlul kitab seperti Bani isra’il akan menjadi baik bila mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi Muhammad SAW dan al-Qur`an. Di antara mereka ada yang beriman, tapi kebanyakan fasiq, sehingga bani isra`il tidak lagi memiliki kelebihan di banding bangsa lain.
Islam adalah agama yang umatnya diperintahkan dengan tegas dalam Al Qur’an dan hadist untuk mendakwahkan ajaran agamanya. Tapi sayangnya tugas itu belum diemban secara serius oleh umat Islam. Tidak ada satu negara Islam yang mempunyai misi untuk mendakwahkan Islam seperti yang dilakukan oleh negara Roma (Vatican) sebagai pusat misi dakwah agama Kristen terbesar di dunia yang mempunyai dana yang besar untuk menyebarkan inzil ke seluruh pelosok dunia.
Ada apa dengan umat Islam…?
Kenapa umat Islam tidak mau mendakwahkan agamanya..?
Allah bangga dengan hamba-Nya yang senantiasa berdakwah di jalan-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat:33)
Perhatikan betapa Allah telah menegaskan bahwa perkataan yang paling baik adalah perkataan para dai. Sebab mereka tidak berkata kecuali ajarannya. Setiap kalimat yang mereka ucapkan semata untuk menyebarkan kebaikan, dan kedamaian bagi manusia.
Saudaraku, sungguh kita hidup di zaman di mana tangan-tangan kebatilan bekerja keras untuk merusak tatanan. Mereka gerogoti aqidah muslim dengan menyebarkan khurafat melalui film-film yang mengagungkan para dukun. Mereka rusak ekonomi dengan sistem ribawi. Mereka cemari budaya budaya dengan tebar budaya pornografi agar tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Mereka raih media dengan menawarkan hiburan yang menggerogoti akhlaq dan moral generasi muda. Orang diajak tertawa dalam rentetan hiburan yang tidak bermakna. Padahal ulama mengatakan bahwa tertawa mematikan hati.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ (الصف4)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Dalam Al Qur’an ada satu surah namanya Ash Shaf artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan shaf harus lurus. Karena ketidak lurusan shaf akan menyebabkan hati bercerai-berai. Dalam ayat di atas kita temukan kata shaffa yang artinya barisan pasukan umat Islam harus lurus dan kokoh, ka’annahum bunyaanun marshush (mereka seperti bangunan yang kuat, tidak tergoyahkan).
Amal Yang Paling Dicintai Allah
Imam Al Qurthuby meriwayatkan bahwa ayat di atas turun ketika para sahabat bertanya: law na’lam ayyul a’maali ahabbu ilallahhi la’amilnaahu (seandainya kami tahu amal yang paling Allah cintai niscaya kami akan melakukannya) lalu turunlah ayat di atas.
Benar ayat ini berkenaan dengan masalah barisan perang, tetapi pada dasarnya semua barisan sama. Baik itu barisan dalam shalat maupun barisan dalam dakwan apalagi dalam perang, itu harus solid. Karena itu Rasulullag saw. selalu mengingatkan sebelum shalat agar barisam shaf diluruskan. Bahkan Rasulullah saw. tidak pernah memulai shalatnya sampai semua barisan shaf benar-benar rapi. Perhatikan betapa makna soliditas barisan ini benar-benar sangat penting, sebagai cerminan ketaatan bagi orang-orang yang beriman
Dari firman Allah di atas: innallaaha yuhibu nampak bahwa Allah benar-benar sangat mencitai barisan yang solid. Artinya sekalipun seseorang banyak melakukan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi jika dalam akhlaknya seahari-hari merusak persatuan umat Islam, itu semua tidak akan membuat Allah cinta kepadanya. Perhatikan Allah mengkaitkan cinta-Nya dengan soliditas barisan. Bahwa untuk meraih cinta Allah seorang hamba harus bersatu dengan saudaranya. Tidak boleh saling menjatuhkan, menjelekkan hanya karena perbedaan fikih atau jamaah, apalagi saling membunuh.
Karenanya kita menemukan contoh-contoh yang sangat mengagumkan dari tradisi para ulama, bahwa mereka sekalipun berbeda mazhab fikih, mereka saling menghormati di antara mereka.
Imam Ahmad mengatakan: “Aku tidak akan menjelekkan orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu’ sekalipun itu sependapat dengan aku.”
Imam Syafi’ie tidak membaca qunut ketika menjadi imam di tengah masyarakat yang bermadzhab Hanafi. Ketika di tanya mengapa ia tidak membaca qunut, padahal baginya sunnah muakkadah dalam shalat subuh, Imam Sya’fii menjawab, “Aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah.”
Perhatikan, betapa para ulama benar-benar memahami bahwa perbedaan fikih tidak boleh menyebabkan lahirnya fanatisme buta, bahkan harus saling menghormati antar satu dengan lain. Ini antara berbagai madzhab, bahwa solidaritas keumatan itu harus ditegakkan, apalalagi dalam satu jama’ah atau organisasi dakwah yang jelas-jelas semuanya berbuat untuk menegakkan ajaran Allah swt.
Mengapa soliditas barisan ini termasuk amal yang paling dicintai Allah?
Pertama, bahwa dari soliditas akan lahir kekompakan.
Dari kekompakan akan lahir sinergi yang berkesinambungan. Bukankah kita hidup di alam ini karena sinergi yang utuh antar seluruh unsur yang Allah ciptakan di dalamnya. Dalam ilmu biologi itu di kenal dengan ekosistem. Perhatikan bahwa semua proses dalam hidup kita sehari-harti sangat membutuhkan soliditas. Dalam tubuh kita, kita temukan bahwa semua organ bekerjasama dengan solid, sehingga kita merasakan nikmatnya. Sungguh tidak terbayang apa yang akan kita rasakan jika masing-masing organ dalam tubuh kita bekerja sendiri-sendiri dan bercerai-berai. Berdasarkan ini nampak bahwa soliditas itu fitrah. Dan kita semua tidak akan pernah menghindarinya. Sekali menghindar kita pasti akan menderita, bahkan itu akan menyebabkan malapetaka bagi kemanusiaan. Karena itu menegakkan soliditas dalam usaha apa saja -apalagi dalam usaha dakwah- adalah suatu keniscayaan. Maka sungguh berdosa ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah, sementara dalam menegakkan ajaran-Nya tidak solid, apalagi saling membunuh antar sesamanya.
Kedua, soliditas barisan adalah bagian dari iman.
Perhatikan ayat sebelumnya, Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk berfirman: limaa taquuluuna maa laa taf’aluun artinya (wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan). Maksudnya mengapa kalian mengaku beriman jika kalian tidak mau bersatu dalam barisan yang kokoh. Ini menarik untuk kita tekankan. Sebab fenomena perpecahan di kalangan umat Islam kini di anggap biasa. Padahal menurut ayat di atas menegakkan persatuan yang solid adalah ciri utama keimanan. Dengan kata lain bahwa tidak ada artinya iman yang dimiliki seseorang jika kemudian saling bemusuhan sesama mu’min. Bahkan dalam surah Al Hujurat:10 Allah berfirman: innamal mu’minuuna ikhawatun, kata innama dalam pandangan ulama tafsir lilhashr maksudnya identifikasi. Artinya bahwa seorang yang beriman identik dengan persaudaraan. Maksudnya tidak pantas seseorang mengaku beriman jika kemudian tidak bersaudara antara satu dengan lainnya. Sama dengan ayat di atas, bahwa tidak pantas seseorang mengatakan bahwa dirinya beriman jika dalam prakteknya tidak bersatu dalam barisan yang kokoh.
Ketiga, bahwa tidak solid dalam barisan dakwah adalah perbuatan dosa.
Perhatikan Allah berfirman pada ayat sebelumnya: “Amat dibenci oleh Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. Lalu Allah menegaskan bahwa sangat suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan barisan yang solid. Artinya bahwa syarat untuk mendapatkan cinta Allah, bukan hanya semata berjuang di jalan-Nya, tetapi juga harus bersatu dalam satu barisan yang solid. Ini pemahaman yang banyak orang Islam salah pahami, sehingga mereka tidak mau bersatu dengan umat Islam lainnya. Padahal shalatnya masih sama, kiblatnya juga masih sama, Allah yang disembah pun juga masih sama. Akibatnya mereka mudah di adu domba. Tidak sedikit dari nyawa orang Islam yang melayang hanya karena perang saudara.
Bagai Satu Bangunan Yang Kokoh
Pada ayat berikutnya Allah berfirman: ka’annahum bunyaanun marshush (mereka seperti bangunan yang kokoh). Apa artinya:
Pertama, bahwa masing-masing bahan bangunan itu berkualitas baik.
Tidak mungkin bangunan itu tegak kokoh jika batu batanya rapuh atau kualitas pasir dan semennya tidak baik. Bagitu juga dalam dakwah, bahwa masing-masing individu harus mempunyai iman dan keikhlasan yang benar-benar berkualitas. Di sini peran tarbiyah dan pembinaan harus dioptimalkan.
Kedua, bahwa bahan-bahan bangunan itu bukan hanya baik secara individual melainkan harus bisa disinergikan dengan bahan-bahan lainnya.
Artinya bahwa kualitas masing-masing aktifis dakwah hendaknya bukan hanya baik secara individu, melainkan ia mampu bersinergi dengan orang lain. Itulah rahasia mengapa Allah mengumpamakan dengan bangunan. Bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi sholeh sendirian, melainkan ia harus bersinergi untuk membuat orang lain beramal shaleh. Dalam rangka ini sangat dibutuhkan soliditas barisan dakwah.
Ketiga, bahwa bangunan dikatakan kokoh bila bertahan lama, dan tidak mengalami kerapuhan di tengah musim apapun panas atau hujan.
Begitu juga barisan dakwah dikatakan solid bila ia tetap utuh, tidak terpengaruh dengan rayuan dan godaan apapun. Pun juga tetap istiqamah memegang prinsip sekalipun situasi dan kondisi memaksanya harus berubah. Ia tidak pernah bubar barisan sebelum ada komando bubar barisan. Itulah rahasia mengapa Allah swt. mengumpamakan dengan bangunan yang kokoh. Karena bangunan akan melindungi dan bisa memberikan rasa aman kepada penghuninya bila ia kokoh dan solid. Wallahu a’lam bishshawab.

Renungkan juga sabda baginda Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Abdurrahman bin A’id ra, dia berkata, “Adalah Rasulullah saw apabila hendak mengirimkan pasukan, maka Beliau memberi nasehat, ‘Bersikap lembut dan sayanglah kepada orang-orang! Jangan menyerang mereka sebelum kalian BERDAKWAH kepada mereka, dan janganlah menghancurkan rumah-rumah mereka! Jangan biarkan satu orang penghuni rumah pun yang ada di kota-kota maupun di desa-desa, kecuali kalian membawa mereka ke hadapanku dalam keadaan muslim (telah memeluk Islam), karena yang demikian itu lebih aku sukai daripada kalian datang padaku dengan membawa istri-istri dan anak-anak mereka setelah kalian membunuh suami-suami mereka!’ “. (HR. Ibnu Mandah dan Ibnu Asakir dalam kitab Al Kanz jilid II halaman 294. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Syahin dan Al Baghawi seperti terdapat dalam kitab Al Ishaabah jilid III halaman 153, juga Tirmidzi dalam kitabnya jilid I halaman 195).
Dari Buraidah ra, dia menceritakan, “Adalah Rasulullah saw apabila mengirim rombongan jihad atau pasukan tentara, maka Beliau saw memberikan nasihat kepada pemimpin mereka supaya menjaga ketakwaan dirinya kepada Allah SWT dan berlaku baik terhadap orang-orang Islam yang di bawah pimpinannya. Beliau juga berpesan kepada pemimpin rombongan, “Apabila engkau bertemu dengan musuhmu orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada salah satu dari tiga perkara, jika mereka menerima salah satu dari tiga pilihan yang engkau ajukan, maka terimalah pilihan mereka dan tahanlah serangan kepada mereka!
Pertama, ajaklah mereka untuk memeluk Islam! Jika mereka menerima, maka terimalah keIslaman mereka dan janganlah menyerang mereka.
Kedua, ajaklah mereka untuk meninggalkan kampung halaman mereka dan tinggal di perkampungan kaum muhajiriin, lalu beritahukan kepada mereka bahwa apabila mereka melakukan yang demikian, maka mereka memperoleh perlakuan dan hak yang sama dengan kewajiban kaum muhajirin; tetapi apabila mereka menolak dan lebih suka memilih untuk tinggal di tempat mereka sendiri, maka katakan pada mereka bahwa mereka akan diperlakukan seperti orang-orang Islam Badwi, dan berlakulah ke atas mereka hukum Allah seperti yang berlaku atas orang-orang mukmin umumnya, yakni mereka tidak akan mendapat bagian dari harta rampasan perang, kecuali jika mereka ikut berjihad bersama kaum muslimin.
Ketiga, jika mereka tidak mau menerima tawaran yang kedua, maka perintahkan kepada mereka supaya membayar jizyah! Jika mereka bersedia membayar jizyah, maka terimalah dan janganlah engkau menyerang mereka ! Tetapi jika mereka menolak membayar jizyah, maka mintalah bantuan kepada Allah dan perangilah mereka! Apabila engkau telah mengepung mereka dalam sebuah benteng, lalu mereka memintamu untuk memberlakukan hukum Allah atas mereka, maka jangan engkau penuhi permintaan tersebut, karena sesungguhnya kalian tidak mengetahui hukum apa yang akan ditetapkan Allah atas mereka. Akan tetapi berlakukanlah pada mereka hukum kebijaksanaan kalian, kemudian putuskanlah perkara mereka setelah itu menurut kebijaksanaan yang kalian kehendaki.” (HR. Abu Daud)
Kewajiban dakwah adalah kewajiban setiap orang yang sudah mengaku Islam.
Ikutlah jama’ah dakwah yang murni hanya mengajak taat kepada Allah bukan kepada partai bukan kepada firqah, bukan kepada pendirian negara Islam bukan pada aliran tertentu bukan untuk negara tertentu bukan dakwah untuk mengadu domba umat, bukan dakwah untuk mengkafirkan umat atau menbid’ah kan umat.
Ajaklah agar orang mau taat kepada perintah Allah dan mau menjalankan sunnah RasulNya.
Ajaklah umat untuk memakmurkan mesjid. Karena markaz kekuatan umat adalah masjid dari jaman Rasulullah sampai sekarang. Ajaklah umat untuk selalu sholat berjamaah di Masjid.
Mari menghidupkan amalan-amalan mesjid yaitu dakwah,ibadah sholat dan zikir,saling belajar dan mengajar (taklim wa taklum) dan saling membantu sesama umat (hikmat).
Bukalah mesjid-mesjid selama 24 jam seperti bukanya rumah sakit 24 jam, spbu 24 jam, restorant,stasiun dan terminal yang juga buka 24 jam untuk melayani orang. Demikian juga mesjid sehingga bisa melayani kebutuhan umat akan santapan rohani seimbang dengan santapan jasmani yang butuh setiap saat selama 24 jam.
Kekuatan dakwah dan umat hanya dalam jamaah. Ikutlah jamaah dakwah yang murni semata-mata hanya untuk mengajak taat kepada Allah dan RasulNya.
Jamaah dakwah seperti ini tidak memiliki nama khusus. Nama jamaah ini hanya sebagai sebutan orang-orang untuk mudah mengenalinya.
Ada yang menyebut jamaah tabligh karena tugasnya hanya bertabligh atau menyampaikan. Ada yang menyebutnya jamaah taklim karena selalu melaksanakan belajar dan mengajar di masjid (taklim wa taklum). Ada yang menyebutnya jamaah silaturahmi karena selalu bersilaturahmi (jaulah) mengajak orang untuk sholat berjamaah. Ada yang menyebutnya jamaah kompor karena selalu bermusyafir membawa kompor. Ada yang menyebutny jamaah kebun jeruk karena markaz dakwahnya di Indonesia adalah Mesjid daerah Kebun Jeruk. Ada yang menyebutnya jamaah Nizamuddin karena markaz dakwanya di dunia adalah di daerah Nizamuddin di ibukota India New Delhi.
Siapa donatur mereka…?
Dakwah murni tidak mengenal donatur. Semuanya datang dari khazanah Allah yang mereka infaqkan ke jalan Allah. Dakwah yang mempunyai donatur akan lemah dan akan padam jika donaturnya lemah.
Siapa pemimipin mereka….?
Pemimpin mereka adalah para amir tiap jamaah yang dipilih secara musyawarah sesuai sunnah baginda SAW.
Untuk siapa mereka berdakwah…?
Hanya untuk Allah SWT.
Untuk apa mereka berdakwah..?
Agar umat taat kepada Allah dan Rasulullah.

DAFTAR PUSTAKA …
[1] Ibn al-Jawzi (508-597H), Zad al-Masir, I h.438, al-Asqalani (773-852H), al-Ijab fi Bayan al-Asbab, II h.733
[2] Zad al-Masir, I h.438
[3] Ibn al-Manzhur, Lisan al-Arab, XIII h.366
[4] Shahih al-Bukhari, IV h.1660
[5] Tafsir al-Jalalain, I h.81
[6] al-Mu’jam al-Kabir, XI h.84
[7] Musnad al-Syihab, IV h.365
[8] Musnad Ahmad, VI h.432
[9] Shahih Muslim (w.261), I h.69 , Sunan Abu Daud (w.275), I h.296, dan Sunan al-Tirmidzi (w.279) IV h.469,

[10] Hr. Ibn Abi Syaibah (w.235), VII h.505 dan Sunan Ibn majah (w.275), II h. 1327
[11] Musnad Ahmad, no.186bacaquranonedayonejus 070214vga1219

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s