HIDUP kita hanya 0,15 DETIK di Dunia

Adapun yang diuraikan diatas adalah perbandingan waktu dan luas akhirat dengan bumi, belum dibandingkan jarak antara keduanya, yang setiap 1 hari perjalanan kesana adalah sama dengan 50.000 tahun. Seperti dijelaskan pada ayat berikut:
Malaikat-malaik¬at dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. [Al-Ma’arij ayat 4]
kecepatan cahaya (c) dalam satu detik adalah 300.000 km
jarak antara bumi dan akhirat adalah 50.000 tahun
jika 50 ribu tahun kita konversi ke dalam hitungan detik maka:
50.000 tahun x365 = 18.250.000 hari
18.250.000 hari x24 = 438.000.000 jam
438.000.000 jam x 60 = 26.280.000.000 menit
26.280.000.000 menit x 60 = 1.576.800.000.0¬00 detik
lalu kita kalikan jarak kecepatan cahaya tiap satu detik
1.576.800.000.0¬00 detik x 300.000 km = 473.040.000.000¬.000.000 kilometer
maka jarak bumi dan akhirat adalah 473.040 trilyun kilometer yang ditempuh menggunakan kecepatan cahaya selama 50 ribu tahun
Renungan
Kita hanya diberi informasi amatlah sedikit tentang akhirat. Semua yang diuraikan diatas itu merupakan sebuah hitungan yang disederhanakan agar kita memahami segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah sedikit dan sebentar. Masih banyak kekuasaan Allah yang tidak diketahui oleh manusia, amatlah luas alam semesta yang diciptakan Allah ini. Semua yang ada di akhirat sana adalah misteri sesudah kita meninggal nanti……………………………………………………………………….

Surga memiliki banyak kenikmatan. Kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di dunia. Berikut ini adalah perbedaan kenikmatan dunia dengan kenikmatan di surga beserta dalil-dalilnya:
1. Apa yang ada di dunia hanya sedikit, sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di surga.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى }
(1) Artinya: “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.’!” (QS An-Nisa’ : 77)
Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa kesenangan dunia ini hanya sedikit saja. Buat apa kita mengejar yang sedikit ini dan melalaikan yang lebih baik nanti.
Disebutkan pula di dalam hadits berikut:
عن مُسْتَوْرِد يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ )).
(2) Diriwayatkan dari Mustaurid radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah! Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke laut, hendaknya dia melihat, seperti apa jari itu kembali.”[1] (Berapa banyak air yang berada di jarinya bila dibanding dengan air laut-pen)

Tidak terbayangkan bukan perbandingan tetesan air yang sedikit di satu jari kita dengan lautan yang sangat luas. Begitulah kenikmatan surga kita tidak bisa membandingkannya dengan kenikmatan dunia
2. Kenikmatan di surga tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan di dalam hadits–nya:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : (( مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا )).
(3) Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu tempat di surga yang sebesar cambuk lebih baik dari dunia dan seisinya.”[2]
Tidak bisa dibayangkan bukan berapa besar dan nikmatnya surga.
Di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan:
عن أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لَرَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ غَدْوَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا …وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
(4) Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (beliau bersabda), “Pergi berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya. Seandainya ada seorang wanita penghuni surga mengintip penduduk bumi, niscaya akan menerangi antara keduanya dan akan terpenuhi dengan anginnya (yang harum). Kerudung yang ada di kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya.”[3]
Adakah wanita dunia yang seperti itu? Subhanahu wa ta’ala, sungguh lalai orang yang tidak mengharapkannya.
3. Surga tidak memiliki hal-hal yang jelek sebagaimana di dunia
Surga tidak memiliki hal-hal yang jelek. Ketika penduduk bumi makan atau minum, maka pasti akan mengeluarkan kotoran, air seni dan bau yang tidak sedap. Wanita di dunia mengalami haid dan juga melahirkan. Haid tersebut adalah kotoran yang dibuang oleh wanita, sedangkan di surga tidak akan didapatkan hal-hal seperti itu.
{ قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ }
(5) Artinya: “Mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS Al-Baqarah : 25)
Penduduk-penduduk surga tidak membuang kotoran-kotoran, mereka selalu bersih dan tidak pernah berbau tidak sedap. Begitu pula dengan khamr di surga, dia tidak memabukkan dan enak rasanya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{ بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ (46) لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُونَ (47) }
(6) Artinya: “(46) (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. (47) Tidak ada dalam khamar itu sesuatu yang membuat pusing dan mereka tiada mabuk karenanya.” (QS Ash-Shaffat : 46-47)
Surga memiliki sungai-sungai yang airnya tidak berubah rasanya, sungai-sungai yang mengalirkan air susu yang tidak akan basi, sungai-sungai yang mengalirkan khamr yang sangat lezat dan sungai-sungai yang mengalirkan madu murni. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ}
(7) Artinya: “(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rab mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS Muhammad : 15)
Penduduk surga memiliki hati yang suci dan bersih. Mereka tidak berbicara kecuali yang baik-baik saja. Mereka tidak mengerjakan perbuatan jelek sedikitpun.
{ لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ }
(8) Artinya: “Tidak ada kata-kata yang tidak berfaidah dan tiada pula perbuatan dosa.” (QS Ath-Thur: 23)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
{ لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا (25) إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا (26) }
(9) Artinya: “(25) Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. (26) Akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS Al-Waqi’ah : 25-26)
Begitulah penduduk surga, jika mereka akan memasuki surga, maka mereka ditahan dulu sebelum memasukinya di sebuah jembatan antara surga dan neraka. Mereka akan dibersihkan dari segala bentuk dosa dan rasa dendam, sehingga tidaklah mereka masuk ke dalam surga kecuali hati mereka benar-benar bersih. Mereka tidak akan menemukan lagi apa yang dinamakan kebencian, kedengkian, kemarahan dan sebagainya sebagaimana mereka dapatkan di dunia. Hati mereka hati yang satu yang selalu bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ((…لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ ، وَلاَ تَبَاغُضَ قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا.))
(10) Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka. Hati-hati mereka tidak saling membenci. Hati-hati mereka adalah hati yang satu. Mereka bertasbih kepada Allah di setiap pagi dan petang.” [4]
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{ وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ }
(11) Artinya: “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS Al-Hijr : 47)
Mari kita bandingkan antara surga dan dunia, surga tidak memiliki hal-hal yang jelek, sementara di dunia kita harus menghadapi berbagai hal yang jelek. Mudah-mudahan kita diberi kesabaran oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menghadapi semua ujian di dunia ini. Amin.
4. Kenikmatan dunia akan sirna sedangkan kenikmatan surga akan terus kekal dan abadi
Allah subhanahu wa ta’ala telah mentakdirkan surga untuk menjadi sesuatu yang akan kekal abadi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
{ مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ }
(12) Artinya: “Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS An-Nahl : 96)
Adapun perkataan sebagian orang yang menyatakan bahwa akhirat, surga dan neraka tidak kekal, maka itu adalah perkataan yang batil. Ayat yang penulis sebutkan menjadi dalil yang sangat jelas akan kebatilan mereka. Walaupun banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan hal yang serupa.

aPAKAH SURGA BERTINGKAT-TINGKAT?

Surga bertingkat-tingkat. Penduduk surga akan menempati tingkatan-tingkatan yang sesuai dengan mereka. Sebagaimana mereka berbeda-beda ketika di dunia dalam beramal, maka di surga pun mereka berbeda-beda tingkatannya. Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (( مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ, جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا)),
فَقَالُوا: ( يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُبَشِّرُ النَّاسَ؟ ) قَالَ: (( إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ, أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ, مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ, فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ, فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ ))
(13) Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mendirikan shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan, maka Allah mewajibkan dirinya untuk memasukkan dia ke dalam surga, baik dia berjihad di jalan Allah atau hanya berdiam diri di tempat di mana dia dilahirkan.” Mereka (para sahabat) berkata, “Ya Rasulullah! Apakah kami boleh memberitahukan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan. Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkat adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus. Sesungguhnya dia berada di tengah-tengah surga dan (letaknya) paling tinggi di surga. Saya diperlihatkan bahwa ‘arsy-nya Allah berada di atasnya. Dari ‘arsy itu terpancar sungai-sungai surga.”[5]
Hadits di atas adalah dalil yang jelas bahwa surga itu bertingkat-tingkat dan kita dianjurkan untuk meminta surga yang paling tinggi, surga firdaus, kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalil yang lainnya:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أُمَّ حَارِثَةَ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَقَدْ هَلَكَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ أَصَابَهُ غَرْبُ سَهْمٍ فَقَالَتْ: ( يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْتَ مَوْقِعَ حَارِثَةَ مِنْ قَلْبِي فَإِنْ كَانَ فِي الْجَنَّةِ لَمْ أَبْكِ عَلَيْهِ وَإِلَّا سَوْفَ تَرَى مَا أَصْنَعُ, فَقَالَ لَهَا: (( هَبِلْتِ أَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ وَإِنَّهُ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى
(14) Artinya: Diriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Ummu Haritsah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –Pada saat itu suaminya telah wafat di peperangan Badar karena terkena tusukan panah– Dia berkata, “Ya Rasulullah! Engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di dalam hatiku. Jika dia berada di surga, maka tidak akan menangis. Akan tetapi, jika tidak demikian, maka engkau akan melihat apa yang akan saya perbuat.” Beliau pun berkata kepadanya, “Engkau sedih? Apakah surga itu hanya satu saja? Sesungguhnya surga sangat banyak. Dan dia berada di surga Firdaus yang paling tinggi.”[6]
Dalil yang lain:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- عَنْ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: (( إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ مِنْ الْمَشْرِقِ أَوْ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ ))
(15) Artinya: Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya penduduk surga akan melihat penghuni-penghuni ruangan (yang mulia) di atas mereka, sebagaimana mereka melihat bintang kejora yang terang di ufuk timur atau barat, dikarenakan perbedaan keutamaan di antara mereka.”[7]
Mudah-mudahan kita bisa menempati ruangan-ruangan mulia yang tinggi itu. Amin.
(Dikutip dari buku ‘Bersama Sang Kekasih di Surga’. Penerbit Darussunnah. Karya penulis)

TERNYATA KITA HANYA HIDUP 0,15 DETIK SAJA, ATAU 1,5 JAM WAKTU AKHIRAT

“Ternyata Kita Hanya Hidup 0,15 Detik Saja, atau 1,5 Jam Waktu Akhirat”
Mohon waktunya sebentar,, dan maaf, bukan bermaksud untuk menggurui. Saling berwasiat dalam hal kebaikan adalah kwajiban sesama Muslim. Mari kita baca dengan seksama dengan tempo se-slow-slownya…
Bismillahir rahmanir rahim…
“Demi masa… Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. al-Ashr: 1-3)
Mengawali catatan ini, saya mulai dengan surat al-Ashr ayat 1-3. Dalam ayat tersebut, Allah swt. bersumpah demi waktu karena memang waktu manusia hidup di bumi ini sangat singkat sekali. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menggunakan waktu sebaik mungkin agar tidak termasuk dalam kategori golongan orang yang rugi.
Menururt perhitungan para Astronom dan Fisikawan dari NASA, hidup manusia ternyata sangatlah singkat. Berdasarkan pendekatan kosmik menyimpulkan bahwa; Rata-rata manusia di bumi ini hanya hidup selama 0,15 detik kosmik. Jika dihitung berdasarkan kalender waktu yang berlaku di bumi, maka kita hidup hanya berkisar 70 tahun. Karena 0,15 detik kosmik setara 70 tahun, karena 1 detik kosmik sama dengan 475 tahun.
Waktu kosmik itu sendiri adalah waktu yang menggambarkan umur alam semesta ini yang diperkirakan 15 milyar tahun. Karena itu para Astronom mendefinisikan umur kosmik, yaitu dengan cara mengandaikan umur alam semesta seakan-akan hanya 1 tahun, maka setiap detik kosmik adalah 475 tahun penanggalan kalender bumi.
Sedangkan berdasarkan pendekatan Dalam al-Quran, perbedaan waktu (waktu dunia dengan waktu akhirat) itu bisa dilihat dalam surat as-Sajadah ayat 5:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.
Jadi, dalam ayat tersebut disampaikan bahwa: perbandingan waktu dunia dengan waktu akhirat itu “satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia”. Sungguh, suatu waktu yang sangat lama dan berbeda sangat tajam, hingga wajarlah jika Allah swt bersumpah demi waktu.

Dan kalau kita bandingkan dengan umur kita hidup di dunia ini dengan waktu di akhirat, dan kita ambil nilai rata-rata usia hidup manusia pada saat ini (yaitu berkisar umur 60-an tahun), atau kita ambil contoh dari Rasulullah Saw yang hidup sampai usia 63 tahun, maka usia kita hidup di dunia ini hanya 1,5 jam waktu akhirat. Subhanallah….

Mari kita sama-sama belajar menghitung:

1.000 tahun di dunia = 1 hari di akhirat.

24 jam akhirat = 1.000 tahun dunia.

12 jam akhirat = 500 tahun dunia.

6 jam akhirat = 250 tahun dunia.

3 jam akhirat = 125 tahun dunia.

1,5 jam akhirat = 62,5 tahun dunia.

Hasilnya, ternyata dunia yang sering kita banggakan selama ini, dimana di dalamnya kita berlomba-lomba untuk saling membunuh, menipu, mendhalimi, menyakiti, membohongi, korupsi, selingkuh, berzina, dll, ini hanya bernilai 1,5 jam saja di akhirat.

Selain itu, jika jangka waktu usia kita rata-rata 63 tahun dan waktu yang kita gunakan untuk tidur atau beristirahat adalah 8 jam sehari (sepertiga dari waktu sehari, 24 jam), maka waktu yang kita gunakan untuk tidur adalah 21 tahun. Jadi, kalau 63 tahun dikurangi waktu tidur 21 tahun, maka hidup kita ini hanya 42 tahun atau satu jam saja waktu akhirat.
Dan… Kalaupun setiap hari kita menunaikan shalat wajib 5 waktu (seandainya setiap satu waktu untuk shalat itu 5 menit), maka:
5 x 5 = 25 menit.

Dalam 1 hari, kita menghadap kepada ALLAH (shalat) hanya 25 menit saja. Dalam 1 minggu berarti 175 menit. Dalam 1 bulan berarti 700 menit. Dan dalam setahun berarti sekitar 8400 menit (140 jam).
Jika kita mati umur 63 tahun, berapa menitkah waktu yang kita gunakan untuk menghadap (beribadah) kepada Allah swt?
Oke, mari kita belajar menghitung lagi…

ILUSTRASI:

63 tahun waktu hidup normal.
(Sekedar info, sholat kita yang diterima (syah) adalah saat kita sudah baligh. Usia baligh mungkin sekitar umur 13 tahun).
63 – 13 = 50 tahun.
Jadi,
50 tahun x 140 jam = 7000 jam.
7000 jam = 292 hari.
292 hari = 9 bulan.
Maa Syaa Allah…
Seandainya kita diberi umur 63 tahun, dan seandainya kita rajin shalat 5 waktu tanpa henti, ternyata kalau dihitung-hitung menggunakan matematika dunia, maka bisa disimpulkan bahwa: dari umur 63 tahun yang kita punya, kita hanya punya waktu 9 bulan untuk beribadah kepada Allah swt.

Padahal Allah adalah Tuhan kita,

Padahal Allah adalah pencipta kita,

padahal Allah adalah penguasa kita,

Padahal Allah adalah Yang Maha Mencukupi segala kebutuhan kita,

Padahal Allah Yang mengabulkan doa-doa kita,

Padahal hanya Allah lah Sang Penolong kita…

Astaghfirullahal Adzim…

Mari kita mulai berbenah diri, memperbanyak istighfar, mengumpulkan bekal sebanyak mungkin untuk perjalanan panjang kita di akhirat nanti, dan bersiap untuk menghadapi moment terdahsyat, yaitu “SYAKAROTUL MAUT”,

seraya berdoa dengan tulus agar hidup kita penuh dengan berkah, diparingi garwo ingkang shalih shalihah tur ayu kimplah2, diparingi rizki ingkang katah tur manfa’ah, anak katah soho sholih sholihah, syukur alhamdu lillah jika diberi rizki untuk ziarah ke Makkah – Madinah (haji), mati dengan husnul khotimah, dan ditempatkan di Surga bersama Baginda Muhammad saw. dengan kenikmatan yang melimpah.

Aamiin,,, Aamiin,,, Aaamiin,,, Yaa Rabbal ‘Alamiin…

Bihaqqi, was sirri, wan nuri suratil faatihah…

PERBANDINGAN WAKTU DUNIA DAN AKHERAT
Perbandingan Waktu
“Dan sesungguhnya satu hari (menurut perhitungan) Tuhanmu adalah seperti 1000 tahun menurut perkiraanmu.” [Al-Hajj ayat 47]
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”¬
[As-Sajdah ayat 5]
Berdasarkan 2 ayat diatas, kita bisa perkirakan perbandingan hari antara dunia dan akhirat dengan hitungan matematika dasar.
1 hari di akhirat = 1.000 tahun di dunia
1 tahun di dunia = 365 hari
1 hari di akhirat = 365 x 1000 = 365.000
Berarti satu hari di akhirat adalah 365 ribu hari di dunia.
Coba kita misalkan, jika 1 hari akhirat juga ada 24 jam, seperti di dunia.
1 hari di akhirat = 1.000 tahun di dunia
1 hari = 24 jam
1 jam di akhirat = 1000/24 = 41,7
maka setiap jam di akhirat adalah sama dengan 41,7 tahun di dunia.
Usia umat nabi Muhammad adalah kurang lebih 60 tahun.
maka jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
1 jam di akhirat = 41,7 tahun
60 tahun/41,7 tahun = 1,4 jam
maka kita hanya hidup di dunia selama 1,4 jam berdasarkan hitungan akhirat
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu adalah terlebih baik bagi orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” [Al-An’am ayat 32]
Perbandingan Ukuran
Lalu seberapa besarkah akhirat jika dibandingkan dengan bumi?
Kita misalkan bahwa akhirat itu sebuah planet seperti layaknya bumi.
diameter bumi adalah 12.700 km
bumi berputar dalam satu hari adalah 24 jam
1 hari di bumi = 1000 tahun di akhirat
1 tahun = 8760 jam
1000 tahun = 8.760.000 jam
maka menggunakan rumus perbandingan sederhana didapatkan
12.700/24 = x/8.760.000
x = 4.635.500.000
dari perhitungan diatas didapatkan bahwa kurang lebih diameter “planet” akhirat adalah 4,6 milyar km. itu baru diketahui diameternya saja, untuk menentukan luas nya, maka kita akan menggunakan rumus menghitung luas lingkaran sederhana.
Rumus Luas lingkaran = phi x r x r
diameter akhirat = 4.635.500.000 km
jari-jari (r) akhirat = 2.317.750.000 km
jari-jari di kuadratkan = 2.317.750.000 x 2.317.750.000
= 5.371.965.062.5¬00.000.000
Luas akhirat = 22/¬7 x 5.371.965.062.500.0¬00.000
= 16.867.970.296.¬250.000.000 km persegi
Luas bumi = 510.072.000 km persegi
jika luas keduanya dibandingkan, maka luas bumi hanya 1:33 milyar luas akhirat. Bumi yang luasnya 500juta km persegi masih menyisakan banyak tempat untuk populasi manusia yang sudah mencapai 6 milyar jiwa. Bayangkan akhirat yang luasnya 33 milyar kali luas bumi, mungkin bisa menampung semua makhluk dijagat raya ini. Manusia dari mulai umat Nabi Adam hingga umat Nabi Muhammad. Dari mahluk ghaib hingga mahluk-mahluk yang belum kita ketahui keberadaannya, semuanya tertampung di akhirat sana.
Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [At-Taubah ayat 38]
Perbandingan Jarak
Adapun yang diuraikan diatas adalah perbandingan waktu dan luas akhirat dengan bumi, belum dibandingkan jarak antara keduanya, yang setiap 1 hari perjalanan kesana adalah sama dengan 50.000 tahun. Seperti dijelaskan pada ayat berikut:
Malaikat-malaik¬at dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. [Al-Ma’arij ayat 4]
kecepatan cahaya (c) dalam satu detik adalah 300.000 km
jarak antara bumi dan akhirat adalah 50.000 tahun
jika 50 ribu tahun kita konversi ke dalam hitungan detik maka:
50.000 tahun x365 = 18.250.000 hari
18.250.000 hari x24 = 438.000.000 jam
438.000.000 jam x 60 = 26.280.000.000 menit
26.280.000.000 menit x 60 = 1.576.800.000.0¬00 detik
lalu kita kalikan jarak kecepatan cahaya tiap satu detik
1.576.800.000.0¬00 detik x 300.000 km = 473.040.000.000¬.000.000 kilometer
maka jarak bumi dan akhirat adalah 473.040 trilyun kilometer yang ditempuh menggunakan kecepatan cahaya selama 50 ribu tahun
Renungan
Kita hanya diberi informasi amatlah sedikit tentang akhirat. Semua yang diuraikan diatas itu merupakan sebuah hitungan yang disederhanakan agar kita memahami segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah sedikit dan sebentar. Masih banyak kekuasaan Allah yang tidak diketahui oleh manusia, amatlah luas alam semesta yang diciptakan Allah ini. Semua yang ada di akhirat sana adalah misteri sesudah kita meninggal nanti.
wallahualam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s