S E J A R A H I B L I S

Barang siapa yg bersujud kepada selain Allah akan jatuh musyrik dan musyrik adalah dosa yg tidak mungkin diampuni lagi.
Jadi saya tidak mau bersujud kepada Adam dikarenakan saya tahu bahwa Adam itu mahluk , kalau saya sujud pd ADam maka saya musrik , maka saya tidak diampuni , dan saya mutlak sujud hanya pada ALLAHta’ala saja dan tidak sujud lainnya Allah.
Malaikat : Iblis, kamu tidak tahu tidak sujud kepada Adam itu perintah Allah bukan kehendak Adam, tetapi kehendak Allah ta’ala , jadi kalau kamu bersujud kepada Adam artinya kamu sujud kepada Allah karena itu perintah Allah.
Iblis : Memang betul, ini perintah Allah tapi perintah tersebut adalah untuk menguji katauhidan kita. perintah itu memang ada yg semata-mata perintah, tapi ada juga perintah yang sifat untuk
mengguji ketauhidan kita

Iblis merupakan musuh bagi umat manusia, sepanjang hidupnya Iblis sudah bersumpah kepada Allah bahwa ia akan berusaha untuk menyesatkan anak cucu Adam, jauh dari jalan Allah agar mereka mau menjadi pengikutnya dan menjadi orang-orang yang tersesat. Untuk itu, marilah kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT agar kita tidak terhasut oleh tipu daya Iblis.
Tapi, tahukah Anda bahwa jauh sebelum nabi Adam diciptakan, Iblis adalah merupakan makhluk yang mulia disisi Allah dan merupakan salah satu makhluk yang paling di hormati oleh Malaikat?
Kasih sayang Allah terbesar kepada Iblis adalah bahwa, yang pertama, dia telah mendapatkan taufik untuk menyembah Allah SWT. Yang kedua karena ibadahnya yang banyak, dia dimasukkan ke dalam kumpulan para malaikat. Dan sebaik-baik pertolongan Allah kepadanya adalah ia menjadi teman pendamping para malaikat sehingga dapat memahami keindahan, kesucian dan kebersihan mereka.
Saking mulianya Iblis pada masa itu, dalam sebuah kitab dari Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa Iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, lalu langit yang kedua disebut az-Zahid, kemudian langit ketiga namanya disebut al-Arif, pada langit keempat namanya adalah al-Wali, pada langit kelima namanya disebut at-Taqi, pada langit keenam namanya disebut al-Kazin, dan pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz (Lauhul Mahfudz) namanya ialah Iblis.
Dulunya Iblis adalah Ahli Ibadah Tapi Angkuh dan Sombong
Dikisahkan Iblis dulunya adalah ahli ibadah yang tidak pernah membangkang dan mengeluh terhadap perintah-perintah Allah. Ia pernah bersujud kepada Allah selama 1000 tahun lamanya dan ia sangat giat dalam beribadah.
Bahkan Iblis pernah menjadi Sayyidul Malaikat (Penghulu atau Pemimpin Malaikat), dan Khozinul Jannah (Bendahara Surga). Namun, lama-kelamaan Iblis menjadi sombong dan angkuh. Ia menganggap bahwa dirinya adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya di antara makhluk-makhluk Allah yang lain.
Hingga pada suatu saat ketika Allah baru saja menciptakan Adam sebagai manusia, maka Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam, lalu Iblis berkata,
“Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam dari pada tanah.”
Kemudian Allah berfirman kepada Iblis,
“Aku membuat apa yang Aku kehendaki.”
Oleh karena iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam karena ia merasa bangga dan sombong. Dia berdiri tegak hingga malaikat selesai bersujud. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati Iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud.
Maka para malaikat bersujud kembali untuk kali kedua karena bersyukur, tetapi Iblis telah dirasuki oleh sifat angkuh dan sombong tetap enggan sujud. Dia berdiri tegak dan berpaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikuti mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas pembangkangannya terhadap Allah.
Mukanya Diubah Hina dan Diusir Dari Surga
Kemudian Allah merubahkan mukanya yang pada asalnya sangat indah cemerlangan ke bentuk hina yang menyerupai babi hutan.
Allah membentuk kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya.
Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.
Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari surga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah, oleh karenanya kadang dalam bahasa Inggris, iblis sebagai ‘mantan’ malaikat yang diturunkan dari surga ini sering pula disebut sebagai “the fallen angel“. Dia tidak akan masuk ke Bumi melainkan dengan cara sembunyi, Allah melaknatnya hingga hari kiamat kerana dia menjadi kafir.
Meski Iblis pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap empat, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.
Ketika Allah membalas tipu daya iblis, maka menangislah Malaikat Jibril dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman kepada para Malaikat,
“Apakah yang membuat kamu menangis?”, lalu mereka menjawab, “Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu.”
Kemudian Allah kembali berfirman kepada Malaikat, “Begitulah Aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaKu.”
Setelah di usir dari surga, maka Iblis berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Surga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu.”
Lalu Allah berfirman pada Iblis, “Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum.”
Berkata lagi iblis,”Tambahkanlah lagi untukku.”
Allah berfirman,”Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.”
Lalu Allah berfirman, “Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah.”
Berkata lagi iblis, “Tambahkanlah lagi untukku.”
Maka Allah berfirman lagi yang bermaksud:
“Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, artinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda maupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, yaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram. Dan pada anak-anak, yaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka.”
Hal ini juga disebutkan dalam surah al-Israa’ ayat 64:

waistafziz mani istatha’ta minhum bishawtika wa-ajlib ‘alayhim bikhaylika warajlika wasyaarik-hum fii al-amwaali waal-awlaadi wa’idhum wamaa ya’iduhumu alsysyaythaanu illaa ghuruuraan
“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” [QS. Al-Isra ayat 64]
Maksud ayat ini ialah Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. Tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman.
Sebelum dilaknat Allah, Iblis pernah melakukan tugas-tugas mulia yang diperintahkan Allah kepadanya yaitu:
1. Iblis sebagai penjaga surga dalam kurun waktu 40.000 tahun.
2. Iblis pernah hidup bersama bergabung dengan Malaikat selama 80.000 tahun.
3. Iblis diangkat menjadi penasehat Malaikat selama 20.000 tahun.
4. Iblis menjadi pemimpin malaikat karobiyyun dalam waktu 30.000 tahun.
5. Iblis melakukan thowaf (mengelilingi) Arasy bersama para malaikat dalam waktu 14.000 tahun.
Jadi, keseluruhan Iblis beribadah melakukan semua perintah Allah dalam kurun waktu 185.000 tahun lebih. Selama dalam ibadahnya seperti kita umat Islam, melakukan sholat, puasa, thowaf dengan para malaikat (mengelilingi baitul makmur di Arsy).
Iblis tidak merasa lelah dan mengeluh dalam menjalankan perintah Allah yang mulia ini. Iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apapun kecuali karena Allah semata.
Pada masa itu malaikat dan lainnya memberi gelar kepada Iblis Al A’ziz (makhluk Allah yang termulia), ada yang memberi gelar A’zazil (panglima besar malaikat).
Menurut kitab tafsir Munir dan Showi, Iblis beribadah pada Allah dalam masa 80.000 tahun, thowaf di baitul Makmur dan Arsy selama 14.000 tahun. Oleh karenanya dilangit pertama sampai ketujuh Iblis begitu dihormati oleh para Malaikat.
Malaikat di penjuru alam semesta, dari bumi, langit, baitul makmur, arsy, dan sebagainya, mereka semua menghormati pada Iblis sebagai makhluk Allah yang terhormat dan termulia, sehingga bila Iblis lewat di depan para malaikat, maka malaikat menghormati pada Iblis, bagaikan penghormatan prajurit kepada komandannya, pengawal istana pada rajanya, sehingga terhormatlah nama Iblis di penjuru alam semesta.
Namun sayang, di lauhul mahfudz, tulisan Iblis terselubung rapi tidak satupun makhluk yang tahu kecuali Allah, tertera Al-kafir Al-mal’un (Iblis inkar terkutuk).
Dalam sumber lain, Iblis pada mulanya bernama Azazil dan tinggal di bumi. Azazil adalah jin yang taat kepada Allah dan memang Iblis sebenarnya adalah dari golongan Jin seperti pada firman Allah pada surah Al-Kahfi, ayat 50:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam , maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Kahfi ayat 50]
Dia menyembah Allah selama 1000 tahun, lalu Allah SWT mengangkatnya ke langit pertama. Di langit pertama, Azazil beribadah menyembah Allah selama 1000 tahun. Kemudian dia diangkat ke langit kedua, begitu seterusnya hingga akhirnya dia diangkat menjadi imam para malaikat.
Apa pun perintah Allah kepada malaikat juga adalah perintah baginya, karena dialah imam para malaikat yang memimpin malaikat. Azazil adalah imam dari seluruh malaikat (Al-muqorrobun, imamul jami’il malaikat).
Ada riwayat yang menyatakan Azazil beribadah kepada Allah selama 80.000 tahun dan tiada tempat di dunia ini yang tidak dijadikan tempat sujudnya ke hadirat Allah SWT.
Dalam satu riwayat menceritakan, malaikat Israfil melihat yang tersurat di Luh Mahfuz ada tercatat satu suratan yang berbunyi:
“Adanya satu hamba Allah yang beribadah selama 80.000 tahun tetapi hanya karena satu kesalahan, maka ibadah hamba itu tidak diterima Allah dan hamba itu terlaknat sehingga hari Kiamat.”
Maka menangislah Israfil karena bimbang makhluk yang tersurat di Loh Mahfuz itu adalah dirinya. Maka diceritakanlah Israfil kepada segala malaikat pengalamannya melihat apa yang tersurat di Loh Mahfuz.
Maka menangislah sekalian para malaikat karena takut dan bimbang dengan nasib mereka. Lalu semua malaikat datang menemui Azazil yang menjadi imam para malaikat, agar Azazil mendoakan keselamatan dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat.
Azazil pun mendoakan keselamatan di dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat dengan doa:
“Ya Allah, janganlah Engkau murka terhadap mereka (para malaikat).”
Namun, Azazil lupa untuk mendoakan keselamatan untuk dirinya. Setelah mendoakan semua para malaikat, Azazil terus menuju ke surga. Di atas pintu surga, Azazil terlihat suratan yang menyatakan:
“Ada satu hamba dari kalangan hamba-hamba Allah yang muqarrabin yang telah diperintahkan Allah untuk membuat satu tugasan, tapi hamba tersebut mengingkari perintah Allah. Lalu dia tergolong dalam golongan yang sesat dan terlaknat.”
Lalu Allah Menciptakan Adam as, dan memerintahkan malaikat untuk sujud menghormat kepada Adam. Azazil, sebagai imam para malaikat, sepatutnya lebih dahulu bersujud memimpin para malaikat. Tetapi, dia menolak, karena dia merasa bahwa dirinya lebih baik dari pada Adam. Sementara para malaikat lain terus sujud tanpa dipimpin oleh Azazil.
Bukan saja enggan sujud, Azazil malah sombong dan menjawab kepada Allah seperti tertulis pada surah Al-Israa’ ayat 61:

wa-idz qulnaa lilmalaa-ikati usjuduu li-aadama fasajaduu illaa ibliisa qaala a-asjudu liman khalaqta thiinaan
“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” [QS. Al-Israa’ ayat 61]
Kesombongan Iblis ini berpuncak pada iri hati dan kedengkian Iblis terhadap Adam. Ia tidak terima karena Allah akan menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi. Karena ia merasa lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan ia lebih mulia karena diciptakan dari api.
Ia durhaka kepada Allah, takabur dan lupa akan dirinya dimata Allah. Tak seharusnya ia membangkang perintah Tuhannya. Maka setelah itu, Iblis akhirnya diusir dari surga. Namanya dirubah menjadi Iblis dan dia bersumpah akan menyesatkan manusia dibumi seperti tertulis pada surah Al-Israa’ ayat 62:

qaala ara-aytaka haadzaa alladzii karramta ‘alayya la-in akhkhartani ilaa yawmi alqiyaamati la-ahtanikanna dzurriyyatahu illaa qaliilaan
Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”. [QS. Al-Isra ayat 62]
Kemudian Allah berfirman, seperti tertulis pada surah Al-Israa’ ayat 63:

qaala idzhab faman tabi’aka minhum fa-inna jahannama jazaaukum jazaa-an mawfuuraan
“Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.” [QS. Al-Isra ayat 63]
Dari kisah ini kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa Iblis yang dulunya adalah ahli Ibadah dan makhluk Allah yang mulia sekalipun, bisa menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah karena kesalahannya.
Untuk itu, sebaiknya kita menjauhi sifat-sifat Iblis, seperti sombong, angkuh, iri hati, dengki dan sifat-sifat burk lainnya milik iblis yang dirayukan melalui bisikan, melalui aliran darah ataupun melalui hati kamu, agar kita terhindar dari laknat Allah. Otak ente masih sehat dan pikiran masih tak tercemar sifat iblis khan? Alhamdulillah. (Sumber dan Referensi: Facebook / Wikipedia: Azazil / Dream.co.id /makintau.com)

sejarah iblis 1
Mungkin akan terlintas dalam benak kita sebuah pertanyaan seperti: Mengapa iblis bisa sampai berbaur dengan kelompok malaikat? Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa dahulu, sejak tujuh ribu tahun sebelum diciptakannya manusia, ada dua rumpun makhluk. Mereka adalah jin dan nisnas. Ketika Allah SWT ingin menciptakan makhluk baru, Allah mengangkat tabir-tabir langit dan berfirman kepada para malaikat,”lihatlah para penghuni bumi dari kalangan makhluk-Ku; lihatlah jin dan nisnas.”
Ketika para malaikat menyaksikan dosa-dosa yang tengah diperbuat jin dan nisnas, para malaikat pun terkejut dan menganggap mereka tak ubahnya seperti monster. Para malaikat berkata,”Wahai Tuhan Engkau Mahamulia lagi Mahakuasa. Mereka itu lemah, eksistensi mereka berlangsung dengan topangan rezeki dari-Mu, namun mereka durhaka kepada-Mu, dan Engkau tidak menghukum mereka.”
Allah SWT berkata, ”Aku akan menciptakan makhluk yang akan menggantikan mereka di muka bumi….dan menampilkan dari keturunannya para nabi dan hamba salih maupun para imam yang lurus yang akan Aku tunjuk sebagai penerus di muka bumi. Akan Aku bersihkan bumi-Ku dari nisnas dan akan Aku buang kau tiran dari kalangan jin yang durhaka, sedangkan (jin lainnnya) Ku-izinkan mereka untuk tinggal di udara dan di seluruh bumi, dan Aku ciptakan satu tabir yang memisahkan jin dan ciptaan-Ku.”1
Dari beberapa riwayat dapat disimpulkan bahwa sepertinya iblis dahulu ditugaskan di bumi yang dihuni oleh jin dan nisnas itu. Kemudian sebagaimana yang dicatat oleh Sayid Ali bin Thawus, mengutip sebuah lembaran catatan Nabi Idris as bahwa iblis (yang pada saat itu mungkin masih dikenal dengan nama azazel), memohon kepada Allah agar diselamatkan dari mereka, mungkin karena dia sudah tidak tahan melihat kedurhakaan mereka itu dan meminta supaya dibolehkan berbaur dengan para malaikat. Allah pun mengabulkan permintaannya.
Berikut ini sebuah riwayat dari Ibn Abbas yang dapat memberikan sedikit lebih gambaran akan apa yang dikerjakan iblis sebelum dia durhaka dan menjadi pembangkang,
“Yang terdahulu menghuni bumi adalah jin. Mereka menebarkan kerusakan di muka bumi, saling menumpahkan darah dan saling membunuh. Kemudian Allah mengutus iblis, disertai dengan sepasukan malaika, untuk membinasakan mereka. Iblis dan para malaikat yang menyertainya berhasil menjalankan tugas. Para jin tersebut berhasil dibuang ke pulau-pulau di tengah lautan dan ke gunung-gunung. Kesuksesan ini membuat iblis jadi bangga diri dan angkuh. Iblis berkata,‘aku telah berhasil mengerjakan sesuatu yang belum pernah berhasil dilakukan oleh siapa pun.’ Allah menyadari perasaan iblis itu, namun para malaikat yang menyertainya tidak menyadari hal itu.
Dari jauh iblis sudah menampakkan rasa hasutnya, yaitu saat manusia masih dalam proses penciptaan. Sayidina Hasan meriwayatkan dari ayahnya Amirul Mukminin, beliau berkata,’Ketika Allah hendak menciptakan Adam, Ia memerintahkan JIbril supaya mengambil segenggam tanah dari sari bumi yang kemudian dicampur dengan air tawar dan air asin, lalu tersusunlah tabiat-tabiat (kecenderungan manusia), sebelum Dia meniupkan roh ke dalamnya. Jadi Adam diciptakan dari sari tanah dan ditempatkan (di langit) seperti gunung besar. Masa itu iblis masih menjadi penjaga langit kelima, dia masuk ke dalam mulut Adam, dan keluar dari anusnya, lalu dia pukul perut Adam sambil berkata,’untuk apa kamu diciptakan? Andaikan Dia memposisikanmu di atasku, maka aku takkan mematuhimu, adapun kalau Dia memposisikanmu di bawahku, maka aku akan membantumu.’ Tubuh Adam itu pun tinggal di surga selama seribu tahun sampai akhirnya ditiupkan roh ke dalamnya ’”.2
Riwayat serupa yaitu dari Rasulullah SAW saat beliau menjawab pertanyaan Abdullah bin Salam tentang bagaimana Allah menciptakan Adam. Beliau bersabda,
“Kepala dan dahi Adam diciptakan dari tanah Ka’bah, dada dan punggungnya dari tanah Yerusalem, pahanya dari tanah Yaman, kakinya dari tanah Mesir dan tanah Hijaz, tangan kanannya dari timur bumi, dan tangan kirinya dari barat bumi. Kemudian Allah menempatkannya di pintu gerbang surga. Kapan pun sekelompok malaikat melewatinya, mereka terkagum dan terpesona melihat keindahan dan postur tubuhnya. Para malaikat itu belum pernah melihat sesuatu yang seperti itu atau bahkan sesuatu yang mendekati keindahannya. Ketika Iblis melewatinya, Iblis melihatnya. Dan Iblis bertanya,’Apa tujuan kamu diciptakan?’ Lalu Iblis memukulnya, namun Iblis menyaksikan bahwa itu berlubang. Maka Iblis masuk ke dalam masuk ke dalam lewat mulutnya, kemudian keluar lewat bagian lainnya. Lalu Iblis berkata kepada malaikat, ‘Ini adalah satu makhluk berlubang yang tak dapat berdiri, juga tak dapat mempertahankan keutuhannya.’ Kemidian Iblis bertanya kepada para malaikat, ’Misal saja sesuatu ini lebih dimuliakan ketimbang kalian, maka apa yang kalian lakukan? ’ Para malaikat berkata, ‘Kami akan menaati perintah Tuhan kami.’ Iblis pun kemudian berkata kepada diri sendiri, ‘Demi Allah! Jika sesuatu ini lebih dimuliakan daripada aku, aku akan menggugat dan menentangnya. Namun kalau aku lebih dimuliakan daripadanya, aku akan membinasakannya’”3
BERGURU TAUHID KEPADA IBLIS
“Pergilah !! Belajar bagaimana cara pengabdian Iblis
Pilihlah hanya satu Qiblat untuk disembah
Jangan bersujud kepada yang lain”.
(Sarmad al-Maqtul)
Konon, pada waktu selesai penciptaan Adam dan peniupan ruh, Tuhan memerintahkan kepada malaikat dan Iblis untuk bersujud kepadanya. Para malaikat yang memang tidak mempunyai kehendak, patuh dan melakukan sujud kepada Adam, sedangkan Iblis menolak perintah Tuhan tersebut. Keengganan Iblis untuk sujud kepada Adam ini, terekam dalam ayat-ayat al-Qur’an, seperti Surat al-Baqarah: 34, al-A’raf: 11, al-Hijr: 29, al-Kahfi: 50, Taha: 116 dan Shad: 72. Selanjutnya Iblis dihukum oleh Tuhan keluar dari surga dan “diberi tugas baru” sebagai penggoda dan penguji keimanan manusia di dunia. Sejak itulah dimulai perang abadi antara kebaikan dengan keburukan, antara kerendahan hati dengan arogansi, dan antara cinta kasih dengan kedengkian. Nur Ilahiyah bertempur dengan syahwat syaithaniyah dalam diri manusia.
Wacana pengingkaran Iblis untuk sujud kepada Adam ini, ternyata tidak dipandang negatif oleh beberapa kalangan, khususnya para sufi. al-Hallaj dan murid-muridnya misalnya, berpendapat Iblis lebih suka mematuhi kehendak abadi Tuhan yaitu tidak boleh seorang pun bersujud di hadapan apa saja kecuali hanya kepada-Nya, daripada perintah yang diberikan-Nya untuk bersujud kepada Adam. Terjebak di antara dilema kehendak abadi Tuhan dan perintah Tuhan, Iblis tampil sebagai tokoh yang tragis memilih kehendak abadi Tuhan, sehingga seakan dia “membangkang” Tuhan. Namun “pembangkangan” Iblis ini, malah menjadikan dia sebagai contoh monotheis dan pecinta sejati. (Schimmel, 1963: 208). Monotheis sejati karena Iblis tidak pernah bersujud kepada selain Dia, meskipun terpaksa mengabaikan perintah-Nya. Maka, tidak mengherankan kalau Ahmad Gazali berani mengatakan: “Barang siapa yang tidak belajar tauhid dari Iblis maka dia adalah kafir”. (Swartz, 1971: 221). Lebih dari itu, menurut al-Hallaj hanya ada dua monotheis sejati di dunia, yaitu Muhammad dan Iblis, akan tetapi Muhammad dirahmati Tuhan, sedangkan Iblis dimurkai Tuhan. Kemudian Iblis disebut pecinta sejati, karena lebih suka menerima kutukan kekasihnya daripada menyangkal kehendaknya. Kutukan kekasihnya (Tuhan) lebih bernilai seribu kali daripada memalingkan muka dari-Nya kepada sesuatu yang lain. Kemurkaan Tuhan adalah kemurahan di balik malapetaka dan kesakitan serta hukuman Tuhan yang diberikan pada pecintaNya adalah kebaikan bagi perkembangan jiwa laksana obat yang rasanya pahit tetapi menyembuhkan bagi pasien yang sakit. Di sinilah Iblis menjadi contoh dari kekasih yang sempurna, yang mematuhi setiap keinginan sang kekasih dan memilih pemisahan abadi seperti yang diingini kekasih daripada persatuan yang ia rindukan. (Schimmel, 1986: 199)
Iblis atau Setan adalah mahkluk Tuhan, dan tidak pernah tampil sebagai musuh Tuhan atau kekuatan anti Ilahi. Dia adalah pengajar dari para malaikat, diyakini telah beribu-ribu tahun patuh kepada Tuhan, dan hanya sekali “melanggar” ketika disuruh sujud kepada Adam, yang menyebabkannya terlempar dari surga dan mendapat tugas baru dari Tuhan, yaitu menggoda manusia menuju jalan kesesatan. Menurut Muhammad
Iqbal, keberadaan Iblis sangat bermanfaat dan diperlukan di kehidupan dunia, sebab hanya dengan memeranginya dalam “perang suci abadi”, maka orang dapat berkembang menjadi manusia sejati, yang lebih tinggi derajatnya daripada malaikat. Iblis membuat kehidupan menjadi penuh warna dan romantika, karena jihad melawannya memberikan makna dan ujian bagi keimanan manusia. Dengan demikian, bukankah Iblis begitu bermanfaat bagi peningkatan derajat kemanusiaan di dunia. Iqbal melukiskan eksistensi Iblis dan malaikat dalam syairnya:
Iblis menusuk pinggang Tuhan bagaikan duri
Sementara Jibril dan malaikat lainnya cuma berpuas diri dan patuh
Sehingga tidak memberikan banyak sumbangan bagi kehidupan
Untuk menjadi menarik dan berharga untuk dijalani.
(Iqbal, 1936: 192).
Iblis adalah mahluk Tuhan, oleh karenanya bukan anti Tuhan dan dia tetap merindukan Tuhan sebagai Sang Kekasih. Namun di dunia ini, karena “pelanggarannya” terhadap perintah sujud pada Adam, ia mendapatkan tugas sebagai penggoda dan penipu manusia menuju jalan kesesatan. Iblis menjalankan tugas ini dengan sempurna, sehingga ribuan manusia telah menjadi anak buahnya, namun sebenarnya hatinya “menangis” mengapa banyak manusia yang begitu mudah terbujuk mengikuti rayuannya menuju jalan kesesatan, sementara dia (Iblis) sendiri ingin dirinya dikalahkan oleh manusia sejati, manusia yang dilimpahi kekuatan dan kesabaran menghadapi bujuk rayunya. Muhammad Iqbal melukiskan keluhan Iblis ini dalam Javidnama.
Nabi pernah ditanya bagaimana keadaan Iblis (Setan) yang menyertai Nabi, Beliau menjawab: “ Setanku telah tunduk dan patuh kepadaku atau Setanku telah menjadi muslim” (aslama syaithani). Setan yang bertugas menggoda Nabi telah takhluk oleh kekuatan dan kesabaran jiwa Nabi, sehingga dia bisa dikendalikan dan menuruti segala perintah Nabi. Iblis penggoda Nabi terselamatkan dari murka Allah karena telah menjadi muslim dan tunduk patuh pada ajaran Nabi. Sebenarnya Iblis-Iblis lain yang bertugas menggoda manusia merasakan “kecemburuan” mengapa tuan yang aku goda tidak mampu menundukanku, sehingga aku terselamatkan seperti nasib Iblis penggoda nabi. Maka, sebenarnya Iblis mengharapkan berhadapan dengan manusia sejati (al- insan al-kamil) yang dilimpahi kekuatan jiwa dan kesabaran mengendalikan nafsu, karena dengan demikian, bujuk rayunya tidak berhasil bahkan ia berhasil ditundukan dan diislamkan kembali (aslama) menuju jalan Tuhan Sang Kekasih yang sangat ia rindukan pertemuannya. Dengan demikian, ia (Iblis) menjadi terselamatkan dari laknat dan murka Tuhan dan bisa berkumpul kembali dalam singgasana kebenaran yang dilingkupi keagungan Tuhan bersama jiwa-jiwa suci lainnya.
Berdasarkan pada pemahaman tersebut, berarti bahwa dengan mendidik indra-indra rendah seseorang, dengan menghaluskan nafs, maka nafsu rendah yang merupakan manifestasi Setan atau Iblis dalam diri manusia bisa menjadi baik, bersahabat dan bersifat positif, sebagaimana seorang pencuri yang sudah bertaubat, maka akan menjadi polisi yang paling baik, karena mengenal tipuan-tipuan dalam bidangnya dan bagaimana berurusan dengan orang-orang yang durhaka. Hal ini karena dalam jiwa manusia, seperti yang dikatakan Imam Gazali, terdiri dari empat unsur sifat yaitu sifat sabu’iyyah, sifat bahimiyyah, sifat syaithaniyah, dan sifat Ilahiyyah. (Gazali, 1982: 21).
Pertama, sifat sabu’iyyah, adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh binatang buas seperti serigala, babi, harimau dan anjing. Sifat-sifat ini mencerminkan sikap permusuhan, kebencian, amarah, saling serang dan kegarangan. Namun pada dasarnya sifat ini netral, artinya sikap permusuhan, kebencian dan kegarangan ini bisa menjadi positif dan juga bisa menjadi negatif, tergantung dari unsur sifat Ilahiyyah dan syaithaniyyah yang mempengaruhinya.
Kedua, sifat bahimiyyah, yaitu sifat-sifat seperti yang dimiliki oleh hewan ternak semacam sapi, kerbau, kambing, kuda dan keledai. Sifat-sifat hewan ini mencerminkan sikap rakus terhadap makanan, tamak terhadap harta, dan pengumbaran nafsu birahi. Sifat-sifat ini pun sebenarnya netral tergantung unsur Ilahiyyah dan syaithaniyyah yang dominan mempengaruhi.
Ketiga, sifat syaithaniyyah, yaitu sifat-sifat yang mengajak menuju lembah dosa dan kehancuran. Ketika manusia dilahirkan di dunia, maka diberi dua pendamping hati, yang satu berpotensi untuk mengajak ke arah keburukan, yaitu setan atau Iblis dan yang satu berpotrensi untuk mengajak ke arah kebaikan atau jalan Tuhan, yaitu malaikat sebagai wakil Tuhan.
Keempat, sifat Ilahiyyah, yaitu sifat-sifat fitrah manusia yang mengajak berbuat kebaikan menuju jalan Tuhan. Unsur-unsur Ilahiyyah dalam diri manusia itu ada, karena ruh manusia diciptakan dari hembusan nafas jiwa Tuhan yang dititipkan dalam jasad manusia.
Kesemua unsur ini ada dalam setiap jiwa manusia. Selanjutnya unsur setan dan unsur Tuhan selalu tarik menarik berupaya mempengaruhi unsur sifat sabu’iyyah dan bahimiyah agar mengikutinya. Bagi manusia yang oleh Ibnu Arabi digambarkan sebagai al-insan al-kamil, unsur Ilahiyyah telah berhasil memenangkan pertempuran abadi dalam jiwa manusia, sehingga unsur bahimiyyah, sabu’iyyah, bahkan syaithaniyyah berarti telah tunduk dan patuh mengikuti kehendak Ilahi. Ketiga unsur ini, akhirnya mendorong untuk tegaknya singgasana Tuhan dalam kerajaan hati. Keganasan sabu’iyah menjadi keganasan untuk menjaga hukum Tuhan, ketamakan bahimiyyah menjadi ketamakan untuk beribadah, dan tipu daya syaithaniyyah menjadi tipu daya mengajak menaiki tangga-tangga kema’rifatan.
Dengan demikian, bukankah setan atau Iblis itu sebenarnya bisa dijadikan sahabat, kawan untuk menyangga tegaknya kerajaan Tuhan. Karena ketika al-Insan al-Kamil berhasil menundukan dan menyelamatkannya (aslama), maka manusia itu pun berarti telah menyelamatkan satu makhluk Tuhan dari murka-Nya di akherat kelak.
Maka dari itu, cara pandang manusia terhadap Iblis atau setan perlu diubah, dari paradigma konfrontatif menjadi paradigma kooperatif. Namun perlu dicatat bahwa perubahan paradigma terhadap Iblis ini, harus disertai dengan kekokohan benteng jiwa yang benar-benar dibimbing oleh Tuhan. Dengan demikian, setan atau Iblis dalam hati manusia yang pada awalnya distruktif, kemudian tunduk dan patuh sehingga berubah menjadi konstruktif terhadap nilai-nilai ketuhanan. Kalau ini mampu terwujud, maka alangkah benarnya syair yang dikumandangkan oleh Rumi;

sejarah iblis 9
iblis dan yahudi
Dalam banyak sifat, orang-orang Yahudi memiliki kesamaan dengan Iblis. Sebagaimana yang al-Quran gambarkan dalam ayat-ayatnya, kisah Bani Israel selalu saja disebutkan setelah kisah Iblis dengan Adam. Dosa-dosa yang dilakukan Bani Israel adalah juga dosa-dosa yang dilakukan Iblis sejak mereka hadir di alam semesta ini.
Di bawah ini pembaca dapat melihat perbandingan antara kedua kelompok tersebut:
Iblis dikenal sebagai makhluk yang dengki. Dan orangorang Yahudi adalah orang-orang yang paling dengki di antara manusia. Mereka dengki dengan saudara mereka, dan berkata, “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayah kalian tertumpah kepada kalian saja. Sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang baik.” (QS. Yusuf: 9)
Iblis menyuarakan sikap sombong dan rasialis mereka dengan lantang. Ia berkata, “Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12) Orang-orang Yahudi juga meneriakkan rasialisme dan menganggap diri mereka sebagai bangsa Allah yang terpilih. Mereka berkata, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 18)
Kerja Iblis di dunia adalah merusak. Allah berfirman, “Sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar:” (QS. An-Nur: 21) Dan tentang orang-orang Yahudi, Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan jalinan dengan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menjalinnya dan membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 27)
Allah menyebut Iblis sebagai musuh bagi anak Adam dan memerintahkan kepada manusia agar menjadikannya sebagai musuh abadi. Ia berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan jalinan (kerabat) dengan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menjalinnya dan membuat kerusakan di muka bumi;” (QS. Al-Baqarah: 27) “Sesungguhnya setan adalah musuh kalian, maka jadikanlah ia musuh (kalian). ” (QS. Fathir: 6) Dan Allah menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai orang-orang yang paling memusuhi kaum mukminin. Allah berfirman, “Engkau akan temukan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Ma’idah: 82)
Allah telah memperingatkan kaum mukminin agar jangan terpedaya dan menjadi pengikut setan. Ia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganJah kalian mengikuti langkahlangkah setan.” (QS. An-Nur: 21) Ia juga melarang kaum mukminin agar jangan menjadi teman dan pengikut orang-orang Yahudi dan Nasrani. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman,janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (kalian).” (QS. Al. Ma’idah: 51)
Salah satu watak setan adalah ingkar janji, Allah berfirman, “Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian, tetapi aku menyalahinya.” (QS. Ibrahim: 22) Orang-orang Yahudi juga selalu ingkar janji, seolah-olah setan menjelma berulang-ulang dalam diri mereka. Allah menjelaskan sifat mereka ini dalam banyak ayat. Di antar’anya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab, (yaitu), ‘Hendaklah kalian menjelaskan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran: 187) Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya.” (QS. Al-Baqarah: 100)
Setan sangat berhasrat untuk mengkafirkan kaum mukminin. Karena itu ia selalu mengintai mereka dijalan yang benar dan keselamatan, seperti layaknya perampok yang mengintai rombongan pejalan. Setan berkata kepada Tuhannya, “Aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka darijalan Engkau yang lurus.” (QS. Al-A’raf: 16), menyesatkan, menjanjikan dan memberikan harapan-harapan kepada mereka, “Padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.” (QS. An-Nisa’: 120) Dan Allah berfirman mengungkap hasrat Bani Israel yang tersembunyi di dalam hati mereka untuk mengkafirkan kaum mukminin, setelah mereka tahu bahwa kaum mukminin berada di dalam kebenaran, “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (ada) dalam diri mereka, setelah kebenaran nyata bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 109)
Falih Ibrahim Abud dalam tesisnya 133) mengatakan, “Bukan sesuatu yang melampaui batas kebenaran ilmiah jika kita katakan, bahwa orang-orang Yahudi lebih bersikap tidak sopan terhadap Allah ketimbang Iblis. Karena Iblis hanya tidak patuh ketika disuruh sujud kepada Adam. Pembangkangannya bukan semata ditujukan kepada perintah Allah itu sendiri, namun pada Adam sebagai makhluk yang ia harus sujud di hadapannya. Sedangkan Bani Israel, di hadapan nabi mereka, sengaja menyekutukan Allah. Meskipun Taurat dan tanda-tanda semesta yang datang dari Allah menjadi mukjizat yang nyata, namun mereka tetap menjadikan anak sapi sebagai sesembahan selain Allah, yang mereka cintai.” 134) “Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi.” (QS. Al-Baqarah: 93)
Iblis berbicara kepada Allah dengan sopan, dengan menyebutkan julukan ketuhanannya. Ia berkata, “Tuhanku!” (QS. Al-Hijr: 39) Sedangkan Bani Israel berbicara kepada Musa a.s. seenaknya saja. Mereka berkata, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami.” (QS. Az-Zukhruf: 49) “Pergilah engkau bersama Tuhanmu.” (QS. Al-Ma’idah: 24). Iblis bersumpah dengan kemuliaan Allah. Iblis berkata, “Demi kekuasaan Engkau.” (QS. Shad: 82) Sedangkan Bani Israel sama sekali tidak mengenal kemuliaan Allah. Mereka tidak pernah berharap keagungan Allah. Mereka berkata, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami adalah orang-orang kaya.” (QS. Ali Imran: 181) Mereka juga berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” (QS. Al-Ma’idah: 64) Mereka juga berkata, “Uzair adalah anak Allah.” (QS. AtTaubah: 30)
Akibat perilaku mereka yang rendah dan buruk terhadap Allah, mereka mendapatkan kemarahan Allah, dilaknat berkalikali, terlantar, dicekam perasaan takut mati dan cinta kehidupan dunia. Allah memaparkan kepada Yahudi semua hakikat ini, memperingatkan mereka akan akibat kemarahan Allah, serta melarang mereka agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengundang kemarahan Allah. Akan tetapi mereka tetap saja menentang Allah, “Karena itu mereka mendapat murka di atas kemurkaan.” (QS. Al-Baqarah: 90) Akibat kemarahan Allah, mereka akan mengalami kejatuhan yang tidak dapat dihindari, meskipun mereka telah mencapai terminal puncak di dalam sejarah mereka. Umat yang memiliki kemuliaan garis keturunan Ibarahim a.s. ini telah terlepas dari kemuliaannya, setelah mereka terjerumus dalam kesesatan. Dengan demikian, mereka terputus-secara teologis dan genetis – dari Ibrahim a.s. “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada lbrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman. Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.“ (QS. Ali-Imran:68)

sejarah iblis 8
11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud. 12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. 15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.” 16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, 17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). 18. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” (QS. Al-A’raaf: 11-18)
Kisah Permusuhan Iblis dengan Adam
Allah maha kuasa terhadap keinginan-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Dia telah menciptakan Adam ‘alaihis salam dari saripati tanah. Tanah yang dibentuk dengan sedemikian rupa sehingga sempurna bentuknya, lalu Allah meniupkan ruh padanya sehingga jadilah makhluk hidup yang bernyawa bernama Adllah memberinya segala macam ilmu yang membuatnya unggul atas malaikat. Maka Allah memerintahkan para malaikat penduduk langit untuk bersujud kepadanya. Semua malaikat bersujud menghormat kepada Adam ‘alaihissalam. Namun Iblis yang berada di sana tidak mau ikut bersujud dan lebih memilih durhaka terhadap perintah Allah.
Siapakah Iblis? Biarlah Allah sendiri yang menjelaskan. Allah berfirman: dia adalah dari golongan Jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya (QS. Al-Kahfi ayat 50). Jadi Iblis adalah salah satu makhluk dari kalangan Jin. Sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah Iblis itu termasuk Malaikat atau dari kalangan bangsa Jin. Namun pendapat yang kuat adalah yang menyatakan Iblis adalah dari kalangan Jin. Karena nash (teks) dalam Al-Quran jelas mengatakan seperti itu. Lalu ulama sepakat bahwa Iblis diciptakan dari api dan menurut Mujahid seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in bahwa bapak moyang Jin adalah Jaan.
Mengapa Iblis tidak mau bersujud kepada Adam? Sesungguhnya ketidakmauan Iblis untuk bersujud kepada Adam ‘alaihissalam adalah karena dengki dan takabur. Hal ini jelas dari firman Allah di atas yaitu ketika Allah bertanya kepada Iblis: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis Menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dia dari tanah”.(QS. Al-A’raf 13). Dalam ayat lain Allah menyebutkan penyebab keengganan Iblis secara tegas yaitu karena ketaburannya, Allah berfirman: Ia enggan dan takabur dan ia golongan orang-orang yang kafir (QS. Al-Baqarah:34). Dalam dua ayat di atas jelas bahwa Iblis tidak mau bersujud lantaran merasa sombong alias takabur dan dia lebih memilih menjadi orang kafir dari pada menjadi orang beriman yang sami’na wa atho’na kepada perintah Allah.
Dari sinilah Akhlak buruk mulai menjelma dalam bentuk pembangkangan kepada Allah ta’ala, kesombongan yang membuat antipati untuk mengakui kelebihan orang lain, bangga dengan dosa dan menutup diri dari pemahaman.
Allah murka kepada Iblis dan Allahpun mengusirnya serta melaknatnya: “Turunlah kamu dari surga itu; tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina.” Dalam ayat yag lain dikatakan pula kepadanya: “Sesungguhnya mulai sekarang kamu terlaknat sampai hari kiamat.” Atau kalau dalam bahasa kita: “Iblis..! mulai detik ini pergi kau dari sini, kamu… Saya laknat sampai hari kiamat. Tidak boleh ada orang sombong dihadapan-Ku.”
Penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam ‘alahissalam terjadi karena sesuatu yang dikehendaki oleh Allah yaitu agar Adam dan istrinya kelak turun dari surga ke bumi untuk menjadi khalifah Allah yang memakmurkan bumi, Dan agar Iblis beserta keturunannya menjadi sarana penyesat manusia.
Setelah Iblis diusir dan dilaknat serta dihinakan, dia putus asa dari rahmat Allah, tidak bertobat dan memperbaiki kesalahan namun justru ingin balas dendam kepada Adam dan keturunannnya. Iblis berkata kepada Allah: Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” para ulama menafsirkan: maksud beri tangguhlah saya sampai hari kebangkitan adalah berikanlah saya kehidupan sampai hari kiamat, artinya Iblis minta supaya tidak matikan oleh Allah kecuali telah datang hari kiamat. Permintaan ini dikabulkan oleh Allah: Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.” Maka telah menjadi keputusan Allah bahwa Iblis akan terus hidup sampai hari kiamat, sebagaimana para malaikat. Dan kelak semuanya akan mati, kecuali Allah Rabbul Alamin. Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya Zadul Masir: Sebenarnya Iblis minta supaya menjadi makhluk terbebas dari kematian dan menjadi orang yang abadi namun Allah Tidak mengabulkan semuanya Allah hanya mengabulkan dia bisa terus hidup sampai hari yang dimaklumi yaitu hari kiamat. Hal ini bisa semakin jelas bila dilihat dalam surat Al-Hijr 38.
Setelah dikabulkan permintaannnya, Iblis menjelaskan alasannya yaitu supaya bisa menyesatkan anak keturunan Adam dari masa ke masa, sehingga setiap anak keturunan Adam pasti mendapat godaan dari Iblis atau bala tentaranya yaitu para Setan dari kalangan Jin dan manusia.
Iblis berjanji di hadapan Allah bahwasannya dia akan menjerusmuskan manusia ke dalam maksiat dengan segala kemampuannya, dia akan mendatangi manusia dari arah depan, belakang, kanan dan kiri, dari atas dan bawah. Semua usaha penyesatan akan Iblis lakukan supaya anak keturuan adam tidak bersyukur kepada Allah, jauh dari shalat, tidak suka mengingat Allah, terjerumus ke dalam kesyirikan dan menjadi temannya di neraka Jahannam. Namun Iblis mengakui sendiri bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan hamba Allah yang Ikhlas, hamba-hamba yang yakin dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pelajaran dalam Kisah Permusuhan Iblis dengan Adam
1. Iblis adalah dari kalangan Jin bukan kalangan malaikat, inilah pendapat yang paling kuat karena didukung oleh nash Al-Quran.
2. Orang orentalis mengatakan Iblis adalah hamba Allah yang paling bertaqwa karena tidak mau sujud kepada makhluk, sehingga kita perlu mengikuti jejak Iblis. Perkataan seperti ini adalah batil karena sujud di sini adalah sujud penghormatan bukan sujud penyembahan dan Iblis menolak sujud penghormatan kepada Adam bukanlah karena keimanan namun karena ketakaburan (kesombongan).
3. Takabur adalah pangkal segala macam dosa. Dengan takabur orang akan terhalangi untuk menerima kebenaran. Rasulullah bersabda yang namanya takabur adalah Bathrul haq wa ghomtunnas: menolak kebenaran (karena gengsi atau yang lainnya) dan meremehkan manusia.(HR Muslim). Dan yang lebih menakutkan lagi adalah ancaman Nabi, beliau bersabda: tidak akan masuk surga orang yang hatinya terdapat satu biji sawi ketakaburan (HR. Muslim)
4. Iblis tidak akan mampu mengalahkan orang-orang yang ikhlas, yang yakin dan tawakal kepada Allah.
5. Iblis beserta para syetan akan mudah menguasai orang-orang yang menyembahnya (berbuat syirik), orang-orang mengikuti jalan sesatnya.
6. Sangat banyak cara Iblis dan bala tentaranya untuk menjerumuskan manusia kedalam kesesatan dan maksiat, maka seorang hamba hendaknya mempersenjatai diri dengan selalu menambah ilmu syar’i . karena orang yang paham dengan agama lebih sulit dijerumuskan oleh syetan kedalam kesesatan dan maksiat daripada orang yang bodoh yang tidak mengerti agama. Dan hendaknya pula seorang hamba selalu berdoa kepada Allah memohon perlindungan dari goadaan syetan lalu tawakkal serta ikhlas dalam beribadah hanya untuk mencari ridho Allah.
sejarah iblis 7
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadat kepadaKu”
Menurut riwayat beribu-ribu atau berjuta-juta tahun yang lalu sebelum ada manusia, sudah ada mahluk yang mendiami bumi ini,mahluk ini jin namanya. Mereka berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka pun ada yang beragama ada yang tidak.
Diceritakan jika di golongan jin ada jin yang bernama Izzazil yang merupakan jin paling taat kepada Allah. Kaum jin memiliki umur yang sangat panjang bahkan bisa mencapai puluhan ribu tahun.
Izzazil ketika dibumi telah beribadah kepada Allah sebanyak 1000 tahun lalu dia memohon kepada Allah untuk beribadah dilangit dan Allah pun mengabulkannya, dilangit pertama ini Izzzazil juga beribadah selama 1000 tahun lalu dia pun memohon untuk beribadah di langit kedua, dilangit kedua Izzazil beribadah selama 1000 tahun. Begitulah seterusnya setiap 1000 tahun Izzazil meminta kepada Allah untuk beribadah ke di langit ke 3,4,5 dan seterusnya hingga dia sampai di langit ke 7. Jadi jika dijumlahkan waktu beribadah dia ketika masih dibumi sampai langit ke 7 adalah 8000 tahun. Tidak sedikit,bukan???
Maka dengan karunia Allah, dinaikkan pangkatnya sehingga mendapat kehormatan “Al-Muqorrobuun”. Itulah pangkat tertinggi disisi Allah baik untuk golongan jin, manusia atau pun malaikat, bahkan setelah Izzazil mendapat pangkat “Al-Muqorrobuun” dari sisi Allah, dia pun diangkat menjadi imam ibadah bagi malaikat-malaikat yang berada di langit. Begitulah saking tingginya derajat Izzazil di sisi Allah. Maka ketika Adam diciptakan dan Allah menyuruh para malaikat dan Izzazil bersujud kepada Adam, Izzazil tidak mau sujud kepada Adam karena merasa dirinya lebih baik dari dirinya.
Sebetulnya apa yang dia katakan cuma alasan saja, sesungguhnya dia merasa iri kepada Adam, mengapa Adam yang baru diciptakan dan belum beribadah selama dia dijadikan Khilafah??? Mengapa Allah tidak memilih dirinya???
Karena Izzail iri hati, takabur dan membantah perintah Tuhan maka diapun diusir dari surga namun sebelum Izzazil turun kebumi dia meminta kepada Allah agar dia umurnya ditangguhkan sampai hari kiamat agar dia bisa menyesatkan anak-cucu Adam kelak, Allah pun menyetujuinya.
Izzazil diam-diam menyusup ke Surga untuk menggoda Adam dan Istrinya agar mau memakan apa yang dinamakan “Buah Khuldi (Buah Pembuat Kekal)” yang merupakan larangan dari Allah, Keduanya pun tertarik sehingga melanggar larangan tersebut hingga keduanya pun diturunkan ke bumi tentu saja beserta Izzazil.
Dan semenjak itulah Izzazil menjadi iblis yang menggoda iman umat manusia. Izzazil pun memiliki anak dan anaknya ini dinamakan Setan, jumlah mereka pun sangat banyak. Oleh karena itulah kenapa Iblis mendapat julukan Bapak dari segala Setan. Yang hingga sekarang terus mencoba untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam kubangan dosa.
Jadi begitulah asal muasal Iblis menurut Islam!!Iblis tidak berasal dari golongan malaikat tapi dari golongan Jin.
sejarah iblis 6

Ketika Iblis diperintah sujud kepada Adam, Iblis tidak mau sujud, maka jatuhlah Iblis. Ibadahnya selama 80.000 tahun hancur tidak ada manfaat bagi dirinya.
Dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 34 diterangkan:
WA IDZQULNAA LIL MALAAIKATISJUDUU LI AADAMA FASAJADUU ILLA IBLIISA ABAA WASTAKBARO WA KAANA MINAL KAAFIRIIN
Artinya: Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Ayat inilah yang dijadikan dasar pendapatnya kebanyakan Ahli Fiqih bahwa Iblis itu adalah bagian dari Malaikat. Dalam kitab tafsir Mafatihul Ghoib Jilid I halaman 427 diterangkan:
QOOLA KATSIIRUN MINAL FUQOHA INNAHU KAANA MINHUM
Artinya : Berkata kebanyakan dari Ahli Fiqih: “Sesungguhnya Iblis itu adalah dari golongan Malaikat.
Adapun alasan ahli Fiqih berpendapat Iblis adalah termasuk dari golongan malaikat adalah:
1. Ayat di atas menyatakan bahwa Alloh Ta’ala perintah kepada Malaikat supaya sujud kepada Adam, maka kalau Iblis bukan dari golongan Malaikat, Ibils tidak sujud kepada Adam itu tidak apa-apa, sebab dia tidak termasuk golongan Malaikat. Sebab yang diperintah adalah malaikat saja, “Waidzqulnaa Lil Malaaikati” tidak ada tambahan “Wal Ibliisa”.
Itu tandanya bahwa Iblis itu termasuk golongan Malaikat yakni Malaikat yang membandel, seumpama bukan golongan Malaikat maka tidak ikut sujud tidak apa-apa sebab di luar perintah.
2. Pada ayat tersebut kalimat “Illa Ibliisa” artinya “kecuali Iblis” yang tidak mau sujud. “Illaa” itu kalimat Isti’na maksudnya pengecualian. Kalau seandainya Iblis itu bukan dari golongan Malaikat, maka tentulah tidak ada pengecualian.
Jadi berdasarkan dua alasan di atas, maka mayoritas Ahli Fiqih berpendapat bahwa Iblis itu dari golongan Malaikat. Hal ini tersebut dalam kitab tafsir Kabir, yang kadang-kadang disebut tafsir Mafatihul Ghoib (Kunci-Kunci Ghoib), yang jilidnya berjumlah 8 jilid besar. Adapun yang mengarang kitab tersebut adalah Fakhrur Rozi.
Jadi dalam kitab tafsir tersebut disebutkan, “Katsiirun Minal Fuqohaai” artinya “Kebanyakan Ahli Tafsir”, meskipun tidak keseluruhannya berpendapat bahwa Iblis itu termasuk golongan Malaikat, tapi kebanyakan berpendapat demikian.
Akan tetapi kalau kami berpendapat bahwa Iblis itu bukan dari golongan Malaikat. Adapun dasar kami itu banyak, di antaranya:
Dalam Hadist, Rosululloh bersabda:
QOOLA ROSULULLOHI SHOLLALLOHU ALAIHI WASALLAM: KHULIQOTIL MALAAIKATU MIN NUURIN (An Aisyah) Rowahu Muslim.
Artinya : Bersabda Rosulullohi Shollallohu Alaihi Wasallam: “Diciptakan Malaikat itu dari cahaya.”
Jadi dzat-nya Malaikat itu diciptakan oleh Alloh Ta’ala dari cahaya, sedangkan kalau Iblis diciptakan dari api. Dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 50 disebutkan bahwa Iblis itu sebangsa dengan Jin.
ILLA IBLIISA KAANA MINAL JINNNI
Artinya : Kecuali yang tidak mau sujud itu Iblis, dia dari golongan Jin.
Dan Jin itu diciptakan dari api, jadi sama dengan Iblis yang juga diciptakan dari api. Dalam Al Qur’an surat Ar Rohman ayat 15 diterangkan:
WA KHOLAQOL JAANNA MIN MARIJIN MINAN NAARIN
Artinya : Dan Engkau (Alloh) menjadikan Jin dari intinya api
Jadi Jin dari Api dan Iblispun dari api, dalam Al Qur’an surat Al A’rof, Iblis mengatakan sendiri bahwa dirinya diciptakan dari api:
KHOLAQTANII MIN NAARIN
Artinya : Engkau (Alloh) menjadikan saya (Iblis) dari api
Jadi Iblis itu sebangsa jin, bukan bangsa Malaikat.
sejarah iblis 5
Dalam Kitab at-Tawasin karya besar Mansur al-Hallaj:
Gusti bertanya pada Azazel,”Mengapa kau enggan bersujud pada Adam?”,
Azazel menjawab,”Tiada yang patut kuagungkan selain Diri-Mu”.
Gusti bertanya balik,”Kendati kau akan menerima kutukan-Ku?”.
Azazel menjawab,”Tidak mengapa, karena hasrat hatiku tak sudi condong pada yang lain. Hamba hanyalah an abject lover“.
Kemudian Azazel bersyair: “Kendati Kau membakarku dengan Api Suci-Mu yang menyala-nyala untuk selamanya/aku tak akan pernah sudi tunduk pada kesadaran ego (manusiawi)/pernyataanku berasal dari hati yang tulus/dalam Cinta aku berjaya, bagaimana tidak?”
Azazel melanjutkan syairnya: “Sesungguhnya tiada jarak yang memisahkan Dikau denganku/ketika tujuan tercapai/kedekatan dan jarak adalah satu/kendati aku ditinggal derita/keadaan itu akan menjadi karibku/jika Kasih itu satu, bagaimana kita bisa berpisah?/dalam kemurnian yang mutlak, Diri-Mu kuagungkan/bagi seorang hamba dengan hati yang benar/bagaimana dia menyembah sesuatu selain Dikau?”.
Ribuan kali, Hyang Manon memerintahkan Azazel bersujud, bow down!, tetapi dia tetap enggan, lalu ia bersyair: “Duh Gusti, segala sesuatu termasuk diriku ini adalah milik-Mu/Kau telah memberikanku pilihan/namun Kau telah menentukan pilihan-Mu bagiku/jika Kau melarangku dari bersujud, Kau adalah Pelarang/jika aku salah paham, jangan Kau tinggalkan daku/jika Kau menginginkanku bersujud dihadapannya, hamba patuh/namun tak seorangpun lebih mengetahui tentang Maksud-Mu selain Nuraniku ini” Atas penolakannya, Hyang Welas Asih menganugerahkan “A highest gift” pada Azazel berupa kutukan dan penderitaan. Dengan legowo, tanpa bertanya lagi, tanpa mengeluh, ia menerima Anugerah-Nya yang Tertinggi, sekaligus terberat. Sang Kekasih bertanya,” Tidakkah kau menolak Anugerah-Ku?”. Azazel, sang pencinta sejati menjawab,”Dalam Cinta di sana ada penderitaan/di sana pula ada kesetiaan/dengan begitu, seorang pencinta menjadi sepenuhnya matang/berkat kelembutan dan keadilan Sang Kekasih.” Claim Azazel yang mengatakan bahwa ia terbuat dari api dan Adam dari tanah, sehingga ia enggan bersujud, sangat simbolik.
Menurut pemahaman saya, seorang Azazel, dengan “Divine Consciousness”-nya mustahil mempermasalahkan hal-hal fisik jasadi semacam itu. Melalui cermin Azazel, sebetulnya Hyang Manon sedang mengajarkan manusia tentang bahaya ego dan kesombongan akibat kesadaran rendah, di sisi lain Dia mengajari para malaikat tentang devosi murni model Azazel. Di sisi lain lagi, melalui para malaikat, Dia mengajarkan kesalehan pada manusia. Alhasil, sesungguhnya iblis merupakan Guru yang mengajarkan kesalehan pada para malaikat dan para malaikat mengajarkan kesalehan itu pada manusia. Pada saat yang sama, iblis mempertunjukkan jalan keburukan pada manusia, agar manusia menghindarinya. Tampak bertentangan, ibarat kain bagus yang ditenun di atas bahan kasar (a fine garment is woven on a coarse,black backing). Dengan kata lain, “whoever does not know vice will not know virtue!“. Inilah “opposite science” menurut Hallaj. Lelucon Ilahi ini penuh makna, ibarat masquerade, natak penyamaran. Bersujud kepada Adam bukanlah perintah (a command), melainkan ujian (a test). Iblis mengetahui hal ini melalui bisikan-Nya lewat Nuraninya.
Al-Hallaj mengakui iblis sebagai monoteis sejati, begitu pula “Muhammad“, simbolik bagi para Nabi, Kristus, Avatar,Buddha,Wali. Mereka adalah perangkat Ilahi. Sebagaimana iblis, Kanjeng Nabi Muhammad pernah mengalami test serupa. Beliau diperintahkan-Nya,”Lihatlah!”. Beliau tidak bergeming, tidak berputar ke kanan, tidak pula ke kiri (beliau tahu bahwa Dia bersemayam di Dalam Diri). Jangan mengkambinghitamkan iblis atas perilaku buruk kita. Manusia benar-benar mandiri dan bertanggungjawab sendiri untuk memilih jalan yang baik atau buruk. Baik (good) dan buruk (evil) hanyalah refleksi Kebenaran (Truth). Dan Gusti Allah di atas baik dan buruk, di atas cahaya dan kegelapan. Nur ‘ala nur, Allah itu Cahaya di atas cahaya.
Renungkan syair Azazel berikut: “Duh Gusti, Kau membebaskanku karena selubungku terbuka/Kau membuka selubungku karena Keesaan-Ku/membuatku satu dengan-Mu dari perpisahan/demi Keberadaan-Mu Yang Nyata/aku tak bersalah telah bersekongkol dalam kejahatan/tidak pula menolak nasibku/tidak pula gelisah dengan perubahan yang kualami/dan aku bukanlah orang yang membentangkan di hadapan manusia jalan kesesatan!”
Dalam kitab Almilal wannihal, malaikat ditantang berdebat dengan iblis :
Malaikat : Iblis, mengapa kamu tidak mau sujud kepada Adam
Iblis : “Malaikat, Allah sudah membuat undang-undang, jangan sampai
kita sujud kepada lainya Allah dalam Alquran surat fusssilat ayat
37 diterangkan :
“Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan bersujud kepada
bulan tetapi bersujudlah kepada allah yang menciptakannya
( matahari dan bulan )”.
Barang siapa yg bersujud kepada selain Allah akan jatuh musyrik dan musyrik adalah dosa yg tidak mungkin diampuni lagi.
Jadi saya tidak mau bersujud kepada Adam dikarenakan saya tahu bahwa Adam itu mahluk , kalau saya sujud pd ADam maka saya musrik , maka saya tidak diampuni , dan saya mutlak sujud hanya pada ALLAHta’ala saja dan tidak sujud lainnya Allah.
Malaikat : Iblis, kamu tidak tahu tidak sujud kepada Adam itu perintah Allah bukan kehendak Adam, tetapi kehendak Allah ta’ala , jadi kalau kamu bersujud kepada Adam artinya kamu sujud kepada Allah karena itu perintah Allah.
Iblis : Memang betul, ini perintah Allah tapi perintah tersebut adalah untuk menguji katauhidan kita. perintah itu memang ada yg semata-mata perintah, tapi ada juga perintah yang sifat untuk
mengguji ketauhidan kita
dari pembicaran tersebut ada dua hal yg menarik yaitu
– Apakah benar semata-mata perintah
– Apakah perintah yang bersifat menguji
Saya ( iblis ) jelas mengetahui bahwa perintah itu adalah perintah yang bersifat untukk menguji katauhidan kita sebab yg mengetahui bahwa adam itu adalah mahluk yg diciptakan dari tanah masak saya sujud kepada mahluk dari tanah.
Malaikat : Darimana kamu mengetahui bahwa sujud kepad Adam itu
semata-mata untuk menguji tidak semata-mata perintah ..???
Iblis : buktinya ada larangan sujud kepada lainya Allah
itu belum dicabut . Dari satu segi dilarang sujud kepada
lainya Allah dan segi lain diperintah sujud kepada lainya Allah
Bagaimna ( iblis ) saya tahu sujud kepada Adam itu semata-mata perintah kalau larangan belum dicabut, kalau larangan bersujud lainya Allah dicabut , maka saya akan mengetahui sujud kepada Adam itu semata-mata adalah perintah Allah .oleh karena itu larangan belum dicabut maka jelaslah perintah sujud kepada Adam itu Adalah UJIAN
Demikian percakapan malaikat dan iblis dalam kitab tersebut. Memang kalau kita lihat sepintas lalu menyalahkan IBLIS sangat mudah akan tetapi seperti diatas iblis diuji ketauhidan yg sangat sulit sekali iblis pertama menggunakan alasan materi alasan ke 2 kemudian iblis menggunakan alasan tauhid , alasan ubuddiyyah.
jalanpincang
sejarah iblis 4
Dapat kita ketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang membawa kebaikan, dan kebaikan saja. Sedangkan iblis dan setan adalah makhluk yang hanya menyuguhkan keburukan dan hanya keburukan saja. Jadi yang sempurna baik adalah malaikat muqarrab, sedang yang sempurna jahat adalah setan yang terkutuk. Sementara itu manusia adalah makhluk yg dari sananya mempunyai potensi untuk baik atau buruk. Kadang ia melakukan keburukan, maka saat itu dia bersama kelompok setan. Kadang juga ia melakukan kebaikkan, dan saat itu dia bersama para malaikat. Setiap manusia dapat kembali kepada setan, atau malaikat, karena secara primordial dia mampu menerima segala pengaruh. Dari potensi, ke aktualisasi, dan dari aktulisasi atau aktifitas ada pengaruh ke dalam hati, sehingga situasi hati dapat berubah-ubah. Kalau amalnya itu berupa kebaikkan, maka dia menaruh kebersihan, kejernihan dan ketenangan hati yang dapat membuatnya lebih mudah menerima ilham malaikat. Sebaliknya, amal buruk menaruh kegelapan dan kesuraman dalam hati sehingga dia lebih cenderung menerima waswas dan bisikan setan.
Rasulullah SAW bersabda,”Wahai umat Muhammad, ingatlah selalu Muhammad dan keluarganya di saat suka maupun duka, agar dengannya Allah menolong malaikat-malaikat (yang menjaga kalian) atas setan-setan yang menjurus kalian. Sebab setiap orang didampingi malaikat di sebelah kanannya yang selalu mencatat kebaikkannya, dan malaikat di sebelah kirinya yang selalu mencatat keburukannya, sebagaimana ia juga diganggu oleh dua setan kiriman iblis yang selalu menggodanya..
Jika dua setan itu membisik hatinya, lalu dia mengingat Allah dan mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah al’aliyyil ‘adziim, wa shalallahu ala muhammadin wa alihi (tiada daya ataupun kekuatan kecuali bagi Allah yang Maha Tinggi lagi Agung, salawat Allah atas Muhammad dan keluarganya), maka kedua setan itu pun lari menjauh, mereka mendatangi iblis dan mengeluh,’ kami telah berupaya, namun tetap tidak berpengaruh’ mereka terus membisikkkan hingga (mencoba menginspirasikan) seribu macam kedurhakaan, tiap kali mereka melemparanya, dia menyebut Allah dan bersalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang suci, mereka tidak mendapatkan jalan atau bahkan salah lagi atasnya, lalu mereka berkata kepada (tuan mereka) iblis,’ tiada selainmu untuknya, engkau bisa membujuknya dengan prajurit-prajurit kawakanmu sampai kau menang dan menjerumuskannya.’ Iblis pun turun tangan bersama serdadunya.
Allah segera berfirman kepada para malaikatnya,’ itu iblis mau menjurus hambaku si fulan atau fulanah berikut serdadunya, maka lekaslah bunuh mereka!’ Rastusan ribu malaikat pun turun memerangi setan-setan terkutuk, masing-masing menunggangi kuda dari api, membawa pedang-pedang, ketapel api, panah-panah, dan semua perlengkapan senjata yang terbuat dari api. Mereka terus memerangi hingga akhirnya iblis tertangkap, sedang di hadapannya segala macam senjata para malaikat yang siap menghunusnya, tanpa daya dia berkata,’ Wahai Tuhan, janji-Mu, Engkau telah menangguhkan umurku sampai waktu yang ditentukan.’ Allah berfirman kepada para malaikat,’ Aku berjanji untuk tidak mematikannya, namun aku tidak berjanji untuk tidak menggencatnya dengan senjata, hukuman, azab, dan kepedihan, maka hantamlah dia dengan senjata kalian, karena sesungguhnya aku takkan mematikannya.’
Setelah selesai, iblis ditinggal dengan penuh luka, kesakitan, matanya bengkak menangisi dirinya dan anak-anak yang tealh gugur terbunuh. Tiada yang dapat mengobati lukanya selain suara kekafiran orang-orang musyrik.’”
Kalau hamba itu tetap taat kepada Allah dan bersalawat kepada Muhammad dan keluarganya, maka luka-luka itu tetap melekat pada diri iblis. Namun kalau hamba itu khilaf dan terjatuh pada maksiat dan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan Allah yang Maha Tinggi lagi Mulia, maka luka-luka iblis itu pun sembuh dan dia menjadi kuat kembali, dia akan tunggangi orang itu, dia akan kekang dan kendalikan, lalu dia naik ke atas punggungnya, setelah itu dia turun dan menaikkan setan-setan dari anak buahnya sambil berkata kepada teman-temannya.” tidaklah kalian ingat apa yang telah menimpa kami gara-gara orang ini? Lihatlah betapa hina dan tunduknya dia terhadap kami sekarang, hingga setan ini dapat menungganginya.”
Rasulullah SAW melanjutkan,”jadi jika kalian ingin menetapkan bengkak mata, dan luka-luka pada diri iblis, maka upayakan supaya selalu taat dan mengingat Allah serta bersalawat atas Muhammad dan keluarganya. Kalau kalian tidak begitu, maka kalian menjadi tawanan yang akan ditunggangi oleh para pendurhaka itu.”1
sejarah iblis 3
Audzu billahi minasysyaithanir-rajim
Bismillahir-rahmanirahim
Iblis diberi nama iblis adalah karena dia ablasa (putus asa) dari rahmat Allah. Sesuai riwayat dari ar-Ridha ra.1.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa pada awlanya nama iblis adalah Alharits. kemudian Allah memanggilnya “YA iblis” yakni wahai pembangkang, yaitu pada saat dia tidak mau bersegera sujud kepada Adam.
Dinyatakann juga bahwa namanya diambil dari kata al-iblas yang maknanya adalah kesedihan luar biasa yang diakibatkan oleh keputus asaan berat.Kata itu (al-iblas) juga digunakan dalam Al-Qur’an ketika berbicara tentang keadaan yang dialami para pendosa pada saat datangnya hari kiamat :
wa yauma taqumus sa’atu yublisul mujrimun
Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa.
(QS. ar-Rum: 12)
Dalam sebuah riwayat dari Nabi saw mengatakan bahwa,”…namanya adalah Alharits, panggilannya adalah Abu Murrah dan sesungguhnya Allah menamakannya Iblis adalah karena dia terputus dari segala kebaikkan sejak hari (tidak mau sujud kepada) Adam”2
Dari macam-macam sebab sebab penamaan iblis tersebut, dan masih banyak lagi dalam berbagai macam riwayat yang terlihat cukup berlainan, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa semuanya berkaitan dengan rasa putus asa, kesedihan, dendam, dan rasa hasut yang selalu mengintainya sehingga dia selalu ingin mengajak dan menjerumuskan manusia supaya senasib dengannya.
Riwayat yang agak berbeda dari yang di atas adalah yang mengatakan bahwa iblis dahulunya, sebelum dia membangkang, termasuk golongan malaikat penghuni bumi yang bernama Azazel. Malaikat yang tinggal dibumi dipanggil jin. Dia termasuk malaikat yang paling berpengetahuan. Namun, ketika dia membangkang kepada Allah, dia terkutuk dan menjadi setan yang dinamakan “iblis” dan tergolong kafir dalam ilmu Allah.3
Riwayat yang menyatakan bahwa namanya dahulu adalah Azazel memang tidak banyak, namun sepertinya Nama itulah yang lebih mahsyur dalam kitab agama samawi lain.
sejarah iblis 2
SEJARAH AZAZIL : RAJA IBLIS
Cerita tentang kesombongan, tentang takabur, tentang selalu berbangga diri, adalah sebuah kisah yang lebih tua dibanding penciptaan manusia. Ia hadir dan berawal ketika manusia masih dalam perencanaan penciptaan. Karena hanya para malaikat makhluk yang diciptakan sebelum manusia, kesombongan sejatinya berhulu dari malaikat. ADALAH Azazil, malaikat yang dikenal penduduk surga karena doanya mudah dikabulkan oleh Allah. Karena selalu dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat Allah.
Tersebutlah suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil mendapati sebuah tulisan “Seorang hamba Allah yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat dengan sebab menolak perintah Allah.” Tulisan yang tertera di salah satu pintu surga itu, tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis
dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu dari Israfil. Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpa laknat dari Allah. Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, Azazil lalu memanjatkan doa.
“Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka.”
Di luar doanya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai Sayidul Malaikat alias penghulu para malaikat dan Khazinul Jannah (bendaharawan surga). Semua lapis langit dan para penghuninya, menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda.
>Pada langit lapis pertama , ia berjuluk Aabid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah pada langit lapis pertama,
>Di langit lapis kedua, julukan pada Azazil adalah Raki atau ahli ruku kepada Allah,
>Di langit lapis ke tiga, ia berjuluk Saajid atau ahli sujud,
>Di langit ke empat ia dijuluki Khaasyi karena selalu merendah dan takluk kepada Allah,
>Di langit lapis kelima menyebut Azazil sebagai Qaanit Karena ketaatannya kepada Allah,
>Di langit keenam Gelar Mujtahid, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah.
> Pada langit ketujuh, ia dipanggil Zaahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup.
Selama 120 ribu tahun, Azazil, si penghulu para malaikat menyandang semua gelar kehormatan dan kemuliaan, hingga tibalah ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah. Ketika itu, Allah, Zat pemilik kemutlakan dan semua niat, mengutarakan maksud untuk menciptakan pemimpin di bumi.
“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi.”
begitulah firman Allah.(QS. Al Baqarah : 30)
Semua malaikat hampir serentak menjawab mendengar kehendak Allah.
“Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau.” (QS. Al Baqarah : 30)
Allah menjawab kekhawatiran para malaikat dan meyakinkan bahwa,
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah : 30)

Allah lalu menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Kepada para malaikat, Allah memperagakan kelebihan dan keistimewaan Adam, yang menyebabkan para malaikat mengakui kelebihan Adam atas mereka. Lalu Allah menyuruh semua malaikat agar bersujud kepada Adam, sebagai wujud kepatuhan dan pengakuan atas kebesaran Allah. Seluruh malaikat pun bersujud, kecuali Azazil.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk
golongan orang-orang yang kafir” (Al Baqarah: 34)

Bersemi Sejak di Awal Surga
Sebagai penghulu para malaikat dengan semua gelar dan sebutan kemuliaan, Azazil merasa tak pantas bersujud pada makhluk lain termasuk Adam karena merasa penciptaan dan statusnya yang lebih baik. Allah melihat tingkah dan sikap Azazil, lalu bertanya sembari memberi gelar baru baginya Iblis. “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud
kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri (takabur) ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” Mendengar pernyataan Allah, bukan permintaan ampun yang keluar dari Azazil, sebaliknya ia malah menantang dan berkata,
“Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.”

Mendengar jawaban Azazil yang sombong, Allah berfirman.
“Keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang diusir”.
Azazil alias Iblis, sejak itu tak lagi berhak menghuni surga. Kesombongan dirinya, yang merasa lebih baik, lebih mulia dan sebagainya dibanding makhluk lain telah menyebabkannya menjadi penentang Allah yang paling nyata. Padahal Allah sungguh tak menyukai orang-orang yang sombong.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Bibit kesombongan dari Azazil sejatinya sudah bersemai sejak Israfil dan para malaikat mendatanginya agar mendoakan mereka kepada Allah. Waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata,
“Ya Allah! Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintah-Mu, sungguh aku ikut mengutuknya.”
Azazil lupa, dirinya adalah juga hamba Allah dan tak menyadari bahwa kata “hamba” yang tertera pada tulisan di pintu surga, bisa menimpa kepada siapa saja, termasuk dirinya.
Lalu, demi mendengar ketetapan Allah, Iblis bertambah nekat seraya meminta kepada Allah agar diberi dispensasi. Katanya,
“Ya Allah, beri tangguhlah aku sampai mereka ditangguhkan.”

Allah bermurah hati, dan Iblis mendapat apa yang dia minta yaitu masa hidup panjang selama manusia masih hidup di permukaan bumi sebagai khalifah. Dasar Iblis, Allah yang maha pemurah, masih juga ditawar. Ia lantas bersumpah akan menyesatkan Adam dan anak cucunya, seluruhnya, Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.
” Maka kata Allah, “Yang benar adalah sumpah-Ku dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis dari golongan kamu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”

Menular pada Manusia Korban pertama dari usaha penyesatan yang dilakukan Iblis, tentu saja adalah Adam dan Istrinya. Dengan tipu daya dan rayuan memabukkan, Nabi Adam as. dan Istrinya lupa pada perintah dan larangan Allah. Keduanya baru sadar setelah murka Allah turun. Terlambat memang, karena itu Adam dan Istrinya diusir dari surga dan ditempatkan di bumi. Dan sukses Iblis menjadikan Adam dan Istrinya sebagai korban pertama penyesatannya, tak bisa dilihat sebagai sebuah kebetulan. Adam dan Istrinya, bagaimanapun adalah Bapak dan Ibu seluruh manusia, awal dari semua sperma dan indung telur. Mereka berdua, karena itu menjadi alat ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan Iblis menyesatkan
manusia. Jika asal usul seluruh manusia saja, berhasil disesatkan apalagi anak cucunya.
Singkat kata, kesesatan yang di dalamnya juga ada sombong, takabur, selalu merasa paling hebat, lupa bahwa masih ada Allah, juga sangat bisa menular kepada manusia sampai kelak di ujung zaman.
Di banyak riwayat, banyak kisah tentang kaum atau umat terdahulu yang takabur menentang dan memperolokkan hukum-hukum Allah, sehingga ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Kaum Aad, Tsamud, umat Nuh, kaum Luth, dan Bani Israil adalah sedikit contoh dari bangsa-bangsa yang takabur dan sombong lalu mereka dinistakan oleh
Allah, senista-nistanya. Karena sifat takabur pula, sosok-sosok seperti Fir’aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti kelak di akhirat.
Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukan berkurang, sebaliknya malah bertambah. Ada yang sibuk mengumpulkan harta dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabur dan merasa paling pintar. Sebagian berbangga dengan asal usul keturunan; turunan ningrat, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus dibanding manusia lain. Mereka yang beribadah, shalat siang malam, puasa, zakat dan berhaji merasa paling saleh dan sebagainya. Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya karena mempertahankan dan bangga dengan budaya warisan nenek moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai. Tak sedikit juga yang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya karena menguber era laju zaman modern yang selalu dibanggakan. Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali. Mata jasmani mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah. Allah telah dijadikan nomor dua, sementara yang nomor satu adalah diri dan makhluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelap tanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membedakan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah).
“Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur)”
(Al Muddatstsir: 23).
Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya sebagaimana golongan setan dari jenis jin. Setan tentu dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula setan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al Araaf: 179).
Penawar Takabur
Seperti penyakit hati yang lain, mengobati sifat dan sikap sombong bukan perkara mudah. Tak ada dokter, tabib, atau sinse yang sanggup mengobatinya. Dari yang tidak mudah itu, ada beberapa yang bisa disebut sebagai obat mengatasi sombong atau takabur.
Pertama adalah tawadu atau merendahkan hati. Hanya dengan sikap rendah hati, meyakini tak ada yang lebih dan tak ada yang patut dibanggakan dari diri dan apapun yang diperbuat diri, semua kesombongan bisa disingkirkan. Sikap tawadu bisa mengimbangi dan menetralkan jiwa dari sifat takabur, karena hanya dengan rendah hati manusia bisa melaksanakan perintah Allah. Seorang yang selalu rendah hati, maka padanya tidak akan ada rasa congkak dan besar diri apalagi merasa lebih dari yang lain. Ia senantiasa meyakini sesuatu yang istimewa pada dirinya atau orang lain, semata karena anugerah Allah.
Kedua adalah Tawakal melawan sombong. Dengan tawakal alias berserah diri sepenuhnya kepada Allah maka akal akan menyadari dan hati akan meyakini, semua yang terjadi pada manusia dan seluruh makhluk adalah atas kehendak Allah dan karena itu tak layak bagi manusia untuk menyombongkan diri selain hanya berpasrah pada Allah. Sifat takabur senantiasa mengajak manusia untuk berbuat ingkar kepada Allah, sebaliknya tawakal senantiasa menyuruh manusia berbuat menurut ketentuan Allah.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran: 159).
Ibarat manusia, maka akan didapati tawadu adalah sebagai ruh, dan tawakal sebagai jasad. Karena menyangkut tentang kesempurnaan dimensi batiniah dan dimensi jasmaniah, maka sangat jelas keberadaan dua sifat ini (tawadu dan tawakal) sangat menentukan untuk menetralkan keberadaan nafsu (jiwa) yang bertempat antara ruh dan jasad (lahiriah dan batiniah), termasuk sifat sombong. Karena itu jika ruh dan jasad tadi tak bersatu, sulit bagi manusia bisa mencapai derajat sebagai manusia utuh atau insan kamil.

DAFTAR PUSTAKA
1 Kisah itu diriwayatkan oleh Ali bin Ibrahim (shahib Tafsir al-Qummi) yang sanadnya sampai pada Imam Baqir as menukil keterangan Amirul Mukminin. Kisah lengkapnya dapat anda baca di Konsep Tuhan, hal. 294 karya Yasin al-Jibouri.
2 Bihar al-Anwar, jil. 60. hal. 198.
3 Yasin Jibouri, Konsep Tuhan, hal. 300.
Sumber: Majalah Al-I’bar, Kisah Quran, Edisi IV.
Catatan : Buah Khuldi (buah Pembuat Kekal) Adalah Penamaan dari Iblis saja karena pada hakikatnya buah itu tidaklah benar benar membuat kekal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s